Saturday, April 25, 2020

Aku Masih Tinggal

Oleh: Muhammad Ihsan

Hari berganti baju lusuhmu kau ganti pula
Sedang aku masih tinggal
menutup sanggul kepalamu yang tinggi
menjagamu dari kejam sengat matahari
merayumu dengan zikir puisi yang abadi
tertanam dalam jiwamu
lantas kita,
tidak pernah saling bertengkar
perihal siapa pemilik bayang-bayang
Bahkan dengan baju barumu
aku masih bisa bercanda
meneguk secangkir kopi di pelataran lemari
menyeduh segelas rindu sebelum pagi kau kenakan aku lagi
sebab mencintaimu, aku bisa menjadi apapun




Rumah Ibu, 26 april 2020

SAYONARA

Oleh: Muhammad Ihsan

Kicau riang burung yang tak lagi ku dengar
Kidung sayu di sela sudut pagi yang sepi
Biar ku ucapkan sayonara pada lesung pipimu yang rona
Yang begitu tangguh bersandiwara dengan upaya terlihat baik-baik saja.
.
sayup suaramu mulai enggan mengiang,
terjerat di sisi-sisi kenangan
melatih rindu untuk belajar sembunyi di balik bayangan
karena malam tak berjanji untuk selalu membawa bintang
.
Selamat hari sabtu, hari raya rindu
Teruntuk seseorang yang tatapnya sayu
Terimakasih untuk sedih
Yang memegang erat tanganku saat perih
Karena yang pergi pasti akan terganti,
Dan yang lara pasti akan lupa
Terbawa arus sungai jenaka
Melumat habis detak detik tawa
Yang pernah hadir dalam hari-hari saat kami bersama
Lalu hilang dalam rentang waktu memaksa.


Tasikmalaya, 4 April 2020

Friday, April 24, 2020

KITA

Oleh: Muhammad Ihsan

Lalu lalang rindu lewat depan pintu
Lirih menyeru bilik-bilik hati perindu
Kini aku pergi
Kau juga pergi
Kita pun pergi
“Pergi?” katamu
Lupa
Kita tinggal
Yang pergi hanyalah tanggal
Sisanya abadi
Kita

.
Tasikmalaya, 24 April 2020

Wednesday, April 22, 2020

SESAK

Oleh: Muhammad Ihsan

Adakah mampu ajal ku panggil dahulu
Untuk membelah tubuhku yang terkoyak
Seiring jantung memuja-muja namamu
Teramat bising dalam peluh dadaku yang sesak
.
Bisa kau bantu aku, Moral?
Berilah satu tarikan nafas lalu tiupkan ke mulutku
Yang telah lama terpasung dalam peluh cinta terhadapmu
Dan jika mau, dengan senang hati
Boleh kau robek kancing dadaku
Bekas jahitan pena tempatku menulis sajak cinta
Sebelum mentari mencium lembut punggung lehermu
Segeralah kosongkan semua ruang di tubuhmu
Yang akan ku isi sejuta nyawa dan jiwaku
.
Tetapi dengan segumpal kisah yang masih basah
Langkah cerita dan nafas yang terengah-engah
Melumat sudut-sudut rindu yang belum terjamah
Biarlah kakiku patah, lalu ku mati dalam merasa bersalah
Memuja Tuhan seraya meluapkan sumpah serapah
Pada rombongan angin yang menghapus senyummu dengan mudah

.
Rajapolah, 23 April 2020







Tuesday, April 21, 2020

SABDA PENA


Oleh: Muhammad Ihsan

Tanganmu di atas secarik kertas safa
Merangkai rangka-rangka karya
Kau teguk mahligai luka duka lara
Tak hirau orang apa dikata

Kini embunmu abadi
Tiada lekang oleh pagi
Tintamu bak panah sumpah
Dilerai tangis dan  darah

Diksimu memang sederhana
Tapi ini bukan sajak biasa
Kau bekerja
Kau menyapa
Kau berduka
Kau bercinta
Kau bercerita
Kau menggenggam
Kau digenggam
Kau menyuara
Kau dijejal dogma
Kau ditekan
Kau dikenang
Dalam lantang sabda pena
Kau,
Teriakan hak-hak  sesama.



Tasikmalaya, 15 April 2020

Temaram


Teruntuk: Dina Nurjannah

Temaram..
Lembayung senja ditelan malam..
Bersamaan dengan rintik hujan yang memilih pecah sebelum datangnya bulan.
Aku menikam diri di bawah atap toko besi.
Duduk bersila di atas serpihan-serpihan koran lama yang tak lagi dibaca orang.
Punggungku membungkuk,
Kepala menunduk,
Tanganku memeluk kaki kedinginan.
Mataku berkaca-kaca hingga menangis
Mengenang masa indah kita.
Sesekali air mata diseka air hujan yang ditiup angin
Seolah langit dan alam raya tak rela derai jatuh dari mataku.
Lalu sekitar jam delapan malam,
Tubuhku gemetar kedinginan
Nafas tersesak senada jantungku yang berdegup kencang
Tapi mulutku tak lelah berucap
Merapal ayat-ayat rindu yang dulu ku bacakan di hadapan mu.
Dalam lirih rindu terberat yang telah memasungku.
Sebelum tiga hari terakhir kau benci menyapa
Padaku nasib nestapa,
Dijejal sesal yang tak berkesudahan
Padamu Dina..
Selaksa doa ku panjatkan,
Semoga lekas membaik, untuk kita tenun kembali kisah romansa.
~Muhammad Ihsan~

KARTINI TIDAK MATI


Oleh: Muhammad Ihsan

Kartini tidak mati,
Ia hanya sembunyi.
Dibalik dada perempuan-perempuan tangguh itu
Dibilik jantung dan sanubari ibu guru
Kartini tidak mati,
tidak pernah mati
Ia hanya diberi raga baru
Bagi yang mampu keluar dari batas-batas ragu
Bagi yang kerap dianggap lemah, leceh, dan payah
Tapi tangguh pendam derita dalam ruang diam yang resah
Pada sakit yang menjerit di tiap cinta yang berupaya bangkit
Pada darah yang jatuh di terik juang yang lupa berteduh
Pada luka yang membekas di setiap hati yang berjuang ikhlas
Kartini selalu ada, akan selalu ada
Untuk hari ini, esok dan lusa

Tasikmalaya, 15 April

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...