Tuesday, July 25, 2017

Tafsir Singkat Bismillah


Artinya: “Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”

(Qs. Al-Fatihah : 1)
Banyak sekali keterangan hadits, dan pendapat ulama yang menganjurkan kita untuk membaca Basmalah di setiap akan memulai kebaikan. “Dengan nama Allah” selalu kita ucapkan dikala kita melakukan shalat, dan setiap kita akan melakukan sebuah pekerjaan.
Tradisi pengucapan dengan nama tuhan sebelum melakukan suatu pekerjaan sudah ada sejak dengan mengucapkan nama-nama tuhan mereka. Untuk menghapuskan praktek jahiliyyah tersebut, maka Allah SWT Menurunkan wahyu pertamanya memerintahkan kepada Rasulullah SAW untk membaca dengan nama tuhanmu.
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Qs. Al-‘Alaq: 1)
Para sahabat membuka kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama bersepakat bahwa ia (Basmalah) merupakan salah satu ayat dari surah An-Naml. Kemudian mereka berselisih pendapat apakah basmalah itu ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat, atau merupakan bagian awal dari masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya. Ataukah juga merupakan salah satu dari setiap surat atau bagian dari surat al-Fatihah saja, dan merupakan ayat.
Dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih  dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW tidak mengetahui pemisahan surat Al-qur’an hingga turun kepadanya              (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم),  dan dikeluarkan juga oleh Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi dalam kitab mustadraknya. Diantara ulama yang mengatakan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surat kecuali At-taubah adalah Ibnu Abbas, ‘Umar, Ibnu Az-Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali. Dan kalangan Tabi’in Atha, Tahwus, Sa’id bin zubair, Makhul dan Az-zuhri.
Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa Basmalah termasuk ayat dalam surat al-fatihah, tidak dalam surat lainnya. Sedangkan, Imam Malik dan Abu hanifah berpendapat bahwa basmalah tidak termasuk ayat dar sruat al-fatihah maupun surat-surat lainnya.
Dawud berpendapat, bahwa basmalah adalah ayat pertama dari setiap surah.berikut yang di riwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakr Ar-Razi, Abu Hasan Al-Karkhi.[1]

I’rab
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
    Jar majrur di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya mebaca basmala ketika hendak makan makan takdri kalimatnya adalah: “Dengan menyebut nama Allah aku makan”.
(bi) haraf jar yang menjadikan lafadz setelahnya dibaca khofaz.
(ismi) majrur. Kalimat yang dikhofazkan oleh haraf jar (bi)
(Allahi) mudhaf ilaih. Di idhafahkan dengan kata (ismi) yang terletak sebelumnya.
(Ar-Rahmaani dan Ar-Rahim) na’at atau sifat dari kata Allah yang dibaca khafaz.
بِسْمِ
    Kata al-ismu dalam bahsa arab berarti kata yang menunjukan pada suatu zat, seperti Muhammad, manusia dsb. Atau bisa menunjukkan kepada sesuatu yang bersifat maknawi, misalnya ilmu, adab, dsb.
    Allah menganjurkan kepada kita agar mensucikan nama Allah SWT ketika hendak membaca al-Qur’an. Karenanya, Allah berfirman:
فَاذْكُرُواالله كَذِكْرِكُمْ أبَائَكُمْ أوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“...Maka berdzikirlah dengan menyebutkan nama Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu..” (AL-Baqarah 2:200)
    Berdasarkan pengertian-pengertian ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam menyebut nama Allah diharuskan adanya keterlibatan hati dan lisan di dalam rangka mengingat keagungan dan kebesaran Allah, serta nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. akan hanlnya menyebutkan nama Allah dengan lisan berarti mengucapkan Asmaul Husna sekaligus memuji dan menyatakan rasa Syukur kepada Allah.juga berarti memohon pertolongan kepada Allah agar memberi kekuatan untuk melaksanakan perbuatan sesuai dengan ketentuan syariat. Sebab, seluruh perbuatan yang tidak di mulai dengan nama Allah berarti tidak diakui syariat.
اللهِ
    Adalah isim Alam, khusus ditujukan kepada yang wajib disembah secara benar. Nama ini tidak boleh digunakan selain Allah.
    Pada masa Jahiliyyah, jika bangsa arab ditanya mengenai siapakah yang menciptakan bumi dan langit, mereka memberikan jawaban “Allah”. Dan jika mereka ditanya apakah “tuhan” Lata dan Uzza dapat menciptakan sesuatu seperti Allah, mereka akan menjawab “tidak”.
    Kata Ilah, adalah isim (nama) yang ditujukan kepada setiap yang disembah haq maupun bathil. Kemudian, kata ini banyak digunakan untuk sesembahan yang haq.
    Kata Allah merupakan nama Tuhan paling popular. Apabila anda berkata “Allah”, apa yang anda ucapkan itu telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedang bila anda mengucapkan namanya yang lain misalnya: Ar-Rahman, Al-Malik, dan sebagianya maka ia hanya menggambarkan sifat rahmat atau kepemilikan-Nya.
    Sekian banyak ulama berpendapat bahwa kata Allah tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah nama yang merujuk kepada Dzat yang wajib wujud-Nya. Banyak ulama yang berpendapat bahwa kata Allah asalnya Ilah yang dibubuhi oleh huruf alif dan lam, dan dengan demikian allah merupakan nama khusus kerana itu tidak dikenal bentuk jamaknya, sedang kata Ilah adalah nama yang bersifat umum dan berbentuk jamak (plural) Alihah.
    Sementara ulama berpendapat bahwa kata Ilah yang darinya terbentuk kata Allah, berakar dari al-Ilahah, al- Uluhah, dan al-Uluhiyah yang semuanya menurut mereka bermakna ibadah atau penyembahan sehingga Allah secara harfiyah bermakna “yang disembah”.
    Kata “Allah” mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata lain; ia adalah kata yang sempurna huruf-huruf dan maknanya serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai Ism Allah Al-A’dzam (nama Allah yang paling mulia), yang bila diucapkan dalam do’a, Allah akan mengabulkannya.[1]
(الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ)
    Dua kata ini berasal dari kata Rahman artinya sesuatu gejolak jiwa yang penuh dengan perasaan kasih sayang terhadap lainnya kemudian kata ini dipakai untuk Allah. berarti Allah bersifat rahman dan rahim.
    Dengan kata Ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan kata Ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya.[2]
    Kata rahman pengertiannya menunjukkan kepada dzat yang menunjukkan bukti2 rahman berupa kenikmatan-kenikmatan dan kebijakan-kebijakan. Sedangkan kata rahim menunjukkan sumber rahmah dan rahim menunjukkan sifat yang tetap ada pada Allah, apabila Allah di sifati dengan sifat rahman. Hal ini difahamkan secara bahasa bahwa allah pemberi kenikmatan. Tetapi sifat rahman ini tidak bisa difaham wajib bagi Allah untuk selamanya. Tetapi jika setelah sifat Rahman itu Allah disifati dengan sifat Rahim, maka dapat diketahui bahwa Allah mempunyai sifat yang tetap dan selamanya yakni Rahim. Sebagai bukti adalah kasih sayang yang berlaku selama-lamanya. Kedua sifat ni mempunyai pengertian lain yang dinisbatkan kepada makhluk.
   Dengan demikian, menuturkan kata Rahim setelah kata rahman merupakan bahwa Allah selalu selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh hamba secara tetap.[3]
    Syeikh Muhammad Abduh menilai bahwa penggabungan tiga kata yang menunjuk Tuhan yang Maha Esa itu dalam ucapan Basmala, merupakan bantahan tidak langsung kepada orang-orang Nasrani, yang menganut faham Trinitas.
    Thahir Ibn Asyur menilai bahwa Basmalah dengan ketiga kata yang merujuk pada Allah swt. telah dikenal jauh sebelum turunnya Al-Qur’an.
Dalam al-Qur’an kata “isim”, “Allah”,” Ar-Rahman”, Ar-Rahim” memiliki jumlah yang dapat dibagi oleh angka 19. Kata “Isim” dalam al-qur’an terulang sebanyak 19 kali, kata “Allah” sebanyak 2698 kali (2698 : 19 = 142), kata “Ar-Rahman” 57 kali (57 : 19 = 3), kata “Ar-Rahim” 114 kali (114 : 19 =6).  Seandainya bismi ditulis dengan alif, perkalian-perklaian diatas tidak akan terjadi. Ini merupakan bukti keotentikan Al-qur’an sehingga akhir zaman karena bila terjadi perubahan kata, pastilah jumlah kata dan hrufnya tidak akan seimbang.
    Thahir Ibn Asyur menilai pandangan-pandangan ulama tentang penulisan basmalah sebagai pandangan yang tidak memuaskan. Menurutnya, penulisan basmalah pada awal-awal surah al-Qur’an,termasuk al-fatihah, bersumber dan mencontohi penulisannya dalam QS. An-Naml [27] : 30.  Di sana katanya ditulis demikian untuk mengisyaratkan bahwa itu adalah awal dari surat nabi Sulaiman as. Yang dikirimnya kepada penguasa kerajaan Saba’ pada saat itu. Nah, ketika para sahabat ingin menuliskan awal-awal surat al-Qur’an, pertanda awalnya adalah basmalah yang ditulis serupa dengan pertanda awal surat Nabi Sulaiman as. Itu, ini menurutnya dapat menjadi dasar atau teladan bagi yangingin memulai suatu tulisan dengan menulisnya menggunakan huruf tebal atau berwarna.
    Kata Allah merupakan nama Tuhan paling popular. Apabila anda berkata “Allah”, apa yang anda ucapkan itu telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedang bila anda mengucapkannamanya yang lain misalnya: Ar-Rahman, Al-Malik, dan sebagianya maka ia hanya menggambarkan sifat rahmat atau kepemilikan-Nya.

Membaca Jahr dan Sir
    Para ulama berbeda pendapat terkait cara pembacaan basmalah dalah shalat. Kalangan yang meyakini bahwa basmalah adalah termasuk ayat dalam surah al-Fatihah maka membacanya dengan Jahr, sedang kalangan yang meyakini bahwa basmalah bukan termasuk ayat maka membacanya dengan Sir.
    Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa membaca basmalah dalam shalat (maghrib, isya, subuh) adalah dengan Jahr dalam fatihah dan surah. Beberapa sahabat juga membaca jahr, seperti Abu Huirairah, Abu umar, Ibnu Abbas, Muawiyah. Menurut riwayat Ibnu Abdul Barri dan Baihaqi dari Umar dan Ali, dan Khatib menukil dari Khulafa Al-Arba’ah yaitu Abu Bakr, Umar , Ustman, Ali, bahwa riwayat tersebut Gharib.[4]
    Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas bahwa rasulullah SAW Membuka shalat dengan Bismillahirrahmanirrahiim.
Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya dari Ibnu Abbas, dia berkata:
.كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يَجْهَرُ بِبِسْمِ الله الرحمن الرحيم ثًمَّ قَالَ صَحِيْح
“Bahwa Rasulullah SAW mengeraskan (bacaan) dengan Bismillahirrahmanirrahiim”, lalu berkata Ibnu Abbas “Shahih”.
    Kalangan yang tidak membaca jahr basmalah dalam sholat adalah madzhab Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal. Sedangkan Imam Malik tidak membaca keduanya (Jahr dan Sir) merujuk pada hadits shahih Muslim dari ‘Aisyah RA, berkta:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يَفْتَتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَكْبِيْرِ وَالقِرَاءَةَ ب: الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ    
“Bahwa Rosulullah SAW mengawali sholat dengan takbir dan bacaan Alhamdulillahi rabbil ‘Alamiin”[5]

Makna Ba’ yang dibaca Bi dalam Basmalah
Ba’ atau (dibaca Bi’) yang diterjemahkan dengan kata “dengan” mengandung satu kata atau kalimat yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas di dalam benak ketika mengucapkan Basmalah, yaitu kata “memulai”, sehingga Bismillah berarti “saya memulai apa yang kami kerjakan ini (dalam konteks surah ini adalah membaca ayat-ayat Al-qur’an) dengan nama Allah”. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi semacam do’a atau pernyataan dari pengucap bahwa ia memulai pekerjaannya atas nama Allah.
Apabila seseorang memulai pekerjaan dengan nama Allah dan atas nama-Nya, maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik, atau paling tidak pengucapnya akan terhindar dari godaan nafsu, dorongan ambisi dan keinginan pribadi sehingga apa yang dilakukannya tidak akan membawa kerugian bagi oranglain.
Ada juga yang mengaitkan kata Bi dengan memunculkan pengakuan atas kekuasaan Allah. Pembaca Basmalah seolah berkata “dengan kekuasaan dan pertolongan Allah pekerjaan ini dapat terlaksana”. Orang yang mengucapkan Basmalah seketika menyakini dan sadar bahwa tanpa kekuasaan dan pertolongan Allah pekerjaannya tidak akan berhasil. Dengan demikian, ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya dan pada saat itu pula ia memiliki keyakinan dan percaya diri akan sesuatu yang dikerjakannya karena ketika itu ia menyandarkan segala urusannya kepada Allah SWT.
    Setiap hal yang diharapkan darinya keberkatan Allah atau dimaksudkan demi karena Allah maka disisipkan kata Isim, sedang bila dimaksudkan untuk permohonan kemudahan dan bantuan Allah tana menyisipkan kata Isim.
Sebagaimana do’a sebelum tidur: “Bismika Allahumma Ahya wa Bismika Amut”
Do’a ini sejalan dengan perintah-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَ نُسُكِى وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam”  (Qs. Al-An’am: 162)
    Oleh karenanya, ketika seseorang memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah maka kita mengharapkan pekerjaan tersebut kekal di sisi-Nya. Dalam artian pahala dan kemanfaatan dari setiap pekerjaan yang didasari atas ketergantungan kepada Allah. karena begitu banyak pekerjaan besar namun tidak diiringi dengan nama Allah tidak bermanfaat apapun dan tidak bernilai sedikitpun di sisi-Nya. Namun, tidak sedikit pula pekerjaan yang ringan dan dipandang kecil oleh manusia namun bernilai tinggi di hadapan Allah.

Wallahu A'lam Bi Murodihi


#SaungKopi
#SantriLiterasi
#Sanbela2016



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera hati, 20120 hlm. 21-24
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah……..hlm. 25
[3] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi, (Semarang: Toha Putra,1992) hlm.31-34
[4] Ibid, hlm 89
[5] Abi Fida’ ismail bin Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-A’dzim, hlm. 90

[1]Abi Fida’ ismail bin Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-A’dzim, (tanpa kota) Daarul Aqidah, 2008, hlm. 88-89

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...