Wednesday, February 6, 2019

KEKELIRUAN QODYANI


Oleh: Muhammad Ihsan

Agama sebagai sesuatu yang sakral acapkali sering diperdebatkan. Kaum satu dan lainnya saling melegitimasi kebenaran. Tak usah menjadi bahan perpecahan harusnya, tetapi jadikanlah bahan untuk bersatu dalam satu keyakinan. Namun, bagaimana jadinya jika kekeliruan terdapat dalam persoalan fundamental? Kesalahan faham dibidang aqidah sangat sempit untuk disebut maklum. Apa sebab? Karena aqidah merupakan pokok agama, yang di dalamnya terdapat keyakinan akan Tuhan yang Esa, Rasul yang diutus, Kitab sebagai petunjuk jalan menuju Tuhan.
Ahmadiyyah, siapa yang tak mengenali kelompok ini. Kaum yang melegalisasi Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dengan memutar balikkan tafsir ayat خاتم النبيين (Penutup para nabi) menjadi (cincin para nabi/nabi paling mulia).
Namun perlu diketahui bahwa Ahmadiyyah terbagi menjadi dua,
1). Ahmadiyyah Qadyani, yang meyakini Mirza ghulam ahmad sebagai nabi.
2). Ahmadiyyah Lahori, yang tidak meyakini Mirza ghulam sebagai nabi.
Perdebatan dua sekte tersebut cukup sengit. Namun pada tulisan ini, kami mencoba membahas kekeliruan Qadyani (Ahmadiyah Qadyani).
Sebuah hadits dalam kitab sunan Tirmidzi, juz 6 nomor hadita 2220 menyebutkan:

 أنه سيكون من أمتى ثلاثون كذابون يزعم أنه نبي و أناخاتم النبيين لا نبي بعدي

Hadits tersebut menyebutkan bahwasanya akan ada dari golongan umat Rasulullah Saw 30 orang (maknanya banyak) yang mengaku-ngaku sebagai nabi (nabi palsu). Padahal Rosulullah merupakan penutup para nabi, serta tak akan ada lagi nabi setelah Rosulullah Saw.
Para kaum Qadyani berpendapat bahwa makna لا نبي بعدي   adalah Tak ada lagi nabi yang membawa syariat setelah nabi Muhammad Saw. Pemahaman keliru ini terus berlanjut dengan masuknya gerombolan muslim KTP yang tak pernah (minimal) dalam memahami agama yang kemudian sangat mudah dikelabui kaum-kaum sesat dan menyesatkan.
Lebih dari itu, Jemaat Qadyani ketika berargumentasi dengan membawa dalil -dalil berupaya menyimpangkan pemahaman dari tafsir-tafsir para ulama. Seperti dalam Qs. Al ahzab ayat 40 yg telah disebutkan yaitu dalam pemberian makna lafadz  خاتم النبيين.
Dalam upaya bersilat lidah , seringkali kaum ini membawa perkataan Sayyidatina ‘Aisyah RA
قولو خاتم النبيين ولا تقول لا نبي بعده.
  Bagi orang dengan pemahaman dangkal, sangat mungkin untuk mudah percaya tanpa mencari tahu asbabul wurud/asbabul hudus perkataan Sayyidatina Aisyah RA tersebut.
Padahal konteks (siyaq) perkataannya adalah ketika Aisyah RA melarang sahabat dalam mencampur Kalamullah (al Quran) dengan qaul rosul (Hadits). Sehingga ayat tersebut berbunyi:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا

Aisyah RA melarang sahabat menambahkan lafadz لا نبي بعدي  dalam ayat tersebut, agar tidak terjadi percampur adukan antara Al Quran dan al Hadist.
Pemaparan diatas hanya berupaya memancing minat pembaca untuk memperdalam pemahaman Ilmu agama khususnya aqidah dengan mengaji kepada para ulama, karena dewasa ini pengaruh globalisasi dan modernisasi membuat agama seolah kehilangan originalitas dengan banyaknya faham-fahan radikal, liberal, sekuler, dsb..


Sumber: Buku Ahmadiyah Qodyani

Wallahu A'lam...


Pesantren anak jalanan Attamur, 6 Februari 2019

No comments:

Post a Comment

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...