Sunday, January 21, 2024

Sikap Yang Saya Ambil


Panggung politik kembali menjadi pemicu perpecahan dan permusuhan. Saling sikut, saling sindir, saling serang bahkan tak jarang saling fitnah kita saksikan di masyarakat akar rumput. Para kandidat calon pemimpin di sana mungkin masih bersahaja dengan masih menjalin komunikasi baik dan silaturahmi yang terjaga. Namun, realita di masyarakat konfilk terjadi begitu mengerikan. Hujatan-hujatan demi membela pilihannya serta menjatuhkan lawan kerap disuarakan. Fitnah-fitnah bertebaran di mana-mana. Kontestasi pemilu menjadi perbincangan di setiap sudut negeri ini. Perpecahan tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa, tetapi masuk ke ruangan para akademisi hingga tokoh agama. Miris, sangat miris. Luka-luka akibat politik 5 tahun lalu kembali harus menganga.

Tulisan ini saya haturkan kepada sahabat-sahabat yang membaca. Sungguh, tak ada satu pun kandidat calon yang sempurna, semua ada kurangnya. Pun begitu, tidak ada satu pun kandidat yang tak memiliki penggemar, semua ada pendukungnya. So, nilai yang paling berharga dan harus dijaga dalam berbangsa dan bernegara adalah kerukunan dan persatuan. Dukunglah kandidat yang anda pilih setinggi-tingginya, tapi jangan pernah mengolok dan menghinan dukungan orang lain. Jika anda tidak suka pilihanmu dihina, maka jangan pernah hina pilihan orang lain. 

Sahabat, persatuan yang telah dipupuk oleh leluhur kita bernilai mahal dan melalui proses yang panjang. Jangan pernah mau untuk diadu domba dan dipecah belah hanya perihal beda calon presiden saja. Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih nanti, hidup kita tetap menjadi tanggung jawab masing-masing. Mereka yang kita dukung berlebihan mungkin tak memikirkan nasib kita esok hari.

Jika Allah SWT saja melarang kita untuk menghina sesembahan orang lain, padahal Dia jelas-jelas Tuhan yang Maha Esa. Maka ambillah ibrah untuk tidak menghina pilihan orang lain. Sanjunglah pilihanmu, hormati pilihan orang lain. Ini sikap yang saya ambil, agar kerukunan tetap terawat di bumi pertiwi yang amat kita cinta ini.

 

Thursday, January 11, 2024

Merawat Persatuan di Tahun Politik



Menjelang tahun pemilu, rongga-rongga perbedaan dan ruas-ruas perpecahan mulai meningkat dan melebar. Kampanye politis pada faktanya tidak hanya perihal adu gagasan dan visi misi, melainkan masuk ke ranah-ranah intim yaitu agama, suku, kepercayaan. Forum-forum agama mulai dari ibadah mahdoh, pengajian, ceramah, khutbah, hingga warna jubah dibumbui dengan asin manis politik yang tak jarang menyulut pro-kontra di tengah masyarakat. Hiruk pikuk politik yang mengusung panji demokrasi dan nilai-nilai Pancasila pada prakteknya selalu saja menimbulkan singgungan dan perpecahan di tengah kehidupan bernegara.
Belajar dari tahun 2019, di mana sejak kampanye digelar hingga detik ini singgungan antar simpatisan calon presiden tak kunjung reda. Berbagai media muncul sebagai kompor untuk membakar emosi dan menebar fitnah kepada sesama putra terbaik bangsa. Pada akhirnya, menjelang pemilihan umum tahun depan sebagian masyarakat belum terobati dengan kisah masa lalu, sedang sebagian lain mulai antipati dan hilang respect terhadap politik karena dianggap sebagai sumber api perpecahan di tengah rakyat sendiri.
Islam sebagai agama yang rahmah menaruh perhatian besar dalam memilih calon pemimpin yang adil dan jujur. Namun, Islam melalui Alquran juga menyeru untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perbedaan merupakan sebuah sunnatullah (ketetapan Allah) di mana Allah sebagai Tuhanlah yang menghendaki manusia hidup dalam keragaman. Sebagaimana firman Allah swt:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
( الحجرٰت/49: 13)
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Al-Hujurat/49:13)
Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsir al-Wasith menyebutkan bahwa yang dimaksud laki-laki dan perempuan pada ayat ini adalah Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa. Maka demikian manusia seluruhnya tersambung dengan bapak dan ibu yang sama. Sehinga tidak ada celah bagi manusia untuk saling menyombongkan diri antara satu sama lain. Pada ayat ini ditegaskan juga bahwa kemulian manusia di sisi Allah swt berdasarkan pada tingkat ketakwaannya kepada Allah swt. Itu artinya komposisi politik serta hasil pemilu nanti tidak menjadi tolak ukur ketakwaan para kandidat pemimpin.
Dalam konteks politik, para kandidat pemimpin yang telah ditetapkan merupakan manusia-manusia yang terpilih untuk melanjutkan kepemimpinan di negara ini. Namun, lahirnya beberapa pilihan, adanya koalisi antar partai, serta dibentuknya tim pemenangan hingga kampanye membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menggunakan hak suaranya kepada sosok yang mereka percaya. Sampai di sini, pemilihan umum (pemilu) merupakan ranah untuk berlomba-lomba serta saling tolong menolong dalam kebajikan bukan malah dijadikan momentum perpecahan yang hanya akan merusak tatanan masyarakat itu sendiri.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup juga menyerukan perintah atas persatuan dan kesatuan serta melarang dan mencegah manusia untuk terpecah belah dan bermusuhan.
Allah swt berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ..... ( اٰل عمران/3: 103)
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, …” (Ali 'Imran/3:103)
 Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip hadis Nabi saw:
إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah ridhai kepada kalian pada tiga perkara dan murka kepada kalian dengan tiga perkara: Allah ridha kepada kalian ketika beribadah hanya kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya sedikitpun, (kemudian Allah juga ridha kepada kalian ketika kalian) berpegang teguh kepada tali agama Allah dan janganlah kalian bercerai berai, (Allah swt meridhai ketika kalian) saling nasehat menasehati kepada pemimpin-pemimpin kalian. Dan Allah swt membenci desas-desus, dan membenci banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (lafaz hadis ini adalah lafaz dari Imam Malik dan Imam Ahmad).
Secara tegas agama Islam melalui Alquran dan Hadis melarang seseorang untuk terpecah belah terlebih tentu melarang seseorang menjadi penyebab terjadinya perpecahan. Islam adalah agama yang rahmah (penuh cinta kasih), sehingga syari’at Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak terjerumus pada permusuhan.
Allah swt berfirman:
... وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ( الماۤئدة/5: 2)
“… Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (Al-Ma'idah/5:2)
Seringkali dalam momentum politik di Indonesia, agama Islam menjadi sasaran empuk untuk dijadikan tunggangan kepentingan demi meraih tujuan kekuasaan. Pada prakteknya, semua kandidat calon pemimpin tidak satu pun yang mewakili Islam secara utuh, oleh karena setiap kandidat beragama yang sama, sehingga tidak bisa dikatakan calon ‘A’ mewakili Islam sedangkan calon lain mewakili selain Islam.
Kebenaran dan keputusan absolut hanya ada di sisi Allah swt, manusia sebagai makhluk hanya memiliki asumsi-asumsi subjektif sehingga tidak perlu merasa paling benar sendiri.
Wallahu A’lam…

Saturday, April 25, 2020

Aku Masih Tinggal

Oleh: Muhammad Ihsan

Hari berganti baju lusuhmu kau ganti pula
Sedang aku masih tinggal
menutup sanggul kepalamu yang tinggi
menjagamu dari kejam sengat matahari
merayumu dengan zikir puisi yang abadi
tertanam dalam jiwamu
lantas kita,
tidak pernah saling bertengkar
perihal siapa pemilik bayang-bayang
Bahkan dengan baju barumu
aku masih bisa bercanda
meneguk secangkir kopi di pelataran lemari
menyeduh segelas rindu sebelum pagi kau kenakan aku lagi
sebab mencintaimu, aku bisa menjadi apapun




Rumah Ibu, 26 april 2020

SAYONARA

Oleh: Muhammad Ihsan

Kicau riang burung yang tak lagi ku dengar
Kidung sayu di sela sudut pagi yang sepi
Biar ku ucapkan sayonara pada lesung pipimu yang rona
Yang begitu tangguh bersandiwara dengan upaya terlihat baik-baik saja.
.
sayup suaramu mulai enggan mengiang,
terjerat di sisi-sisi kenangan
melatih rindu untuk belajar sembunyi di balik bayangan
karena malam tak berjanji untuk selalu membawa bintang
.
Selamat hari sabtu, hari raya rindu
Teruntuk seseorang yang tatapnya sayu
Terimakasih untuk sedih
Yang memegang erat tanganku saat perih
Karena yang pergi pasti akan terganti,
Dan yang lara pasti akan lupa
Terbawa arus sungai jenaka
Melumat habis detak detik tawa
Yang pernah hadir dalam hari-hari saat kami bersama
Lalu hilang dalam rentang waktu memaksa.


Tasikmalaya, 4 April 2020

Friday, April 24, 2020

KITA

Oleh: Muhammad Ihsan

Lalu lalang rindu lewat depan pintu
Lirih menyeru bilik-bilik hati perindu
Kini aku pergi
Kau juga pergi
Kita pun pergi
“Pergi?” katamu
Lupa
Kita tinggal
Yang pergi hanyalah tanggal
Sisanya abadi
Kita

.
Tasikmalaya, 24 April 2020

Wednesday, April 22, 2020

SESAK

Oleh: Muhammad Ihsan

Adakah mampu ajal ku panggil dahulu
Untuk membelah tubuhku yang terkoyak
Seiring jantung memuja-muja namamu
Teramat bising dalam peluh dadaku yang sesak
.
Bisa kau bantu aku, Moral?
Berilah satu tarikan nafas lalu tiupkan ke mulutku
Yang telah lama terpasung dalam peluh cinta terhadapmu
Dan jika mau, dengan senang hati
Boleh kau robek kancing dadaku
Bekas jahitan pena tempatku menulis sajak cinta
Sebelum mentari mencium lembut punggung lehermu
Segeralah kosongkan semua ruang di tubuhmu
Yang akan ku isi sejuta nyawa dan jiwaku
.
Tetapi dengan segumpal kisah yang masih basah
Langkah cerita dan nafas yang terengah-engah
Melumat sudut-sudut rindu yang belum terjamah
Biarlah kakiku patah, lalu ku mati dalam merasa bersalah
Memuja Tuhan seraya meluapkan sumpah serapah
Pada rombongan angin yang menghapus senyummu dengan mudah

.
Rajapolah, 23 April 2020







Tuesday, April 21, 2020

SABDA PENA


Oleh: Muhammad Ihsan

Tanganmu di atas secarik kertas safa
Merangkai rangka-rangka karya
Kau teguk mahligai luka duka lara
Tak hirau orang apa dikata

Kini embunmu abadi
Tiada lekang oleh pagi
Tintamu bak panah sumpah
Dilerai tangis dan  darah

Diksimu memang sederhana
Tapi ini bukan sajak biasa
Kau bekerja
Kau menyapa
Kau berduka
Kau bercinta
Kau bercerita
Kau menggenggam
Kau digenggam
Kau menyuara
Kau dijejal dogma
Kau ditekan
Kau dikenang
Dalam lantang sabda pena
Kau,
Teriakan hak-hak  sesama.



Tasikmalaya, 15 April 2020

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...