Saturday, March 21, 2020

Hujan


Oleh Muhammad Ihsan

Air mata langit Berjatuhan,
Menabur berlian berlian
hujan
Bumi bernadzar menyangga setiap detik kerinduan
Dengan senyuman
Sedang kala itu Kawanan awan cemburu buta
Raut wajahnya menampilkan aura tak gembira
Menyambut
hujan,
Mukanya hitam, pitam, pekat dan lekat
Pada saat bersamaan,
Rumput kering riang gembira
Dibalut cinta kerinduan
Seperti bunga-bunga layu,
Yang tertawa menyambut
hujan
Adakah yang bisa bertanya kepada mendung
Mengapa ia murung?
Dan siapa yang sanggup menyapa mentari
Dengan bait-bait puisi
Yang kau tulis dalam secarik kertas kenangan
Untuk menghiburnya kala
Hujan.
Dan jangan sekali-kali engkau
Bersumpah pada
Hujan
Karena janji yang tak ditepati
Hanya membunuh api
Kepercayaan.

PAGAN





Rupanya senja tak menepati janji
Biasanya ia bantu menyeduh kopi
Dan kita saling berbincang diserta sepiring gorengan
Hai, kenapa kau tak kunjung datang hari ini?
Rintik sedu bulir bulir hujan hanya mempersaksikan
Kehadiranku agaknya berbeda sua
Tatapan langit mulai kusam
Ia ingin menangis pada bumi
Mencurah secercah kisah dari perjalanan hari ini
Apa begitu pula denganmu?
Riuh riuh angin padamkan api penantian ini
Sesekali aku tertawa
Sesekali aku bersedih
Kemana engkau, senjaku?
Atas nama handai tolanmu, Pagan
Aku disini
Di hadapan dua gerbang biru,
Menantimu,
Menjemputmu,
Menjagamu,
Mesra dengan senyum mu dalam bayang tadi pagi
Riang dengan elokmu dalam nadi sore ini,
Dan setelah jumpa kita petang hari
Katakan padaku,
Bilang pada hatimu,
Jangan kau ucap nama Anwar di mukaku lagi..

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...