Friday, September 27, 2019

NEGERI PARODI 2

Oleh:Muhammad Ihsan


Suasana kian memanas, ratusan bahkan ribuan rakyat merana, berduka, dan hanya berpegang teguh pada seutas tali harapan tercapainya aspirasi yang diyakini benar penganutnya.
Konyol memang, di ujung masa jabatan undang-undang dibuat panggung candaan dan atau berisi cerita dongeng cinderella dengan seekor kancil yang cerdik.
.
Agen of change, Agen of control, dan bahkan agen of knowledge melekat sebagai tugas sekunder atau bahkan primer untuk sebagian atau seluruh mahasiswa. Banyak yang hafal, namun tak banyak yang faham. Karena terkadang idealisme yang menjadi harta paling berharga itu dilatar belakangi kemarahan, kekecewaan, atau mungkin keserakahan yang menjual nalar jernih perjuangan dengan kepentingan individu atau politik.
.
“Indonesia sedang sakit” katanya dalam sebuah opini yang dirilis berbagai macam media sosial. Kecelakaan, kekerasan, bahkan kematian yang dibuat oknum tidak serta merta bisa dimanfaatkan guna men-judge institusi secara keseluruhan.
.
“Dimana presiden? Dalam kasus seperti ini seolah enggan menampakkan diri di muka publik yang sedang dahaga kepastian, haus keadilan?” ujarnya dalam sebuah narasi.
.
 Sebentar, tulisan ini belum selesai. Kita masih menemukan kerancuan fakta. Bukannya beberapa orang terkemuka di jajaran wakil rakyat adalah musuh politik presiden dalam pilpres lalu? Lalu, bukannya pelantikan presiden, kabinet dan jajarannya masih menunggu november untuk dilantik? 
.
Orang bijak berkata: “Kebenaran yang tak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”. Lalu siapakah yang benar dan siapa yang jahat?
Sesama kita mengetahui, bahwasanya kita hidup pada zaman dimana kebenaran dan kejahatan hampir sulit dibedakan. Di fase abu-abu inilah oknum-oknum berkepentingan merongrong negeri ini ibarat semut yang mengepung gula. Oleh karena semut telah masuk kedalam tumpukan gula, kita hampir saja menelan gula yang tadinya manis menjadi pedas kerana kejahatan telah masuk ke dalam sendi-sendi kebenaran. Hingga tidak heran, jika kita bertemu oknum polisi, TNI, dewan, pejabat, artis,mahasiswa,  da’i, bahkan ustadz yang menjilati perjuangan ikhlas dimonopoli, ditunggangi, dirasuki kepentingan untuk mengangkat bahkan menjatuhkan lawan.
.
Apakah anda pernah mendengar iblis bertaubat, koruptor bersedekah, pelacur bercadar, pembohong berjubah,  dan bahkan teroris berkedok sunnah dan ajaran nabi? jadi, apakah kita sudah bisa memastikan kebenaran absolut selain Tuhan? Jawabnya tidak mungkin.
.
Momentum kacaunya realita bangsa saat ini malah-malah diperkeruh dengan adanya embel-embel tauhid, cukong-cukong sunnah, kuman-kuman radikal, ekstrem, kurang kasih sayang dan bahkan korban PHP. Yang menyatakan dirinya ‘Pasukan Kurang Ajar’ disingkat HTI.
.
So, Sebelum menghukumi ada baiknya kita menjaga diri untuk tidak menghukumi seenaknya.
Idealisme itu penting, harus dipupuk, dijaga, dirawat, tapi juga harus selaras dengan nalar bijak dan akal sehat.
“Selamat Melaksankan Ibadah Ngopi”
wallahu a’lam

Thursday, May 30, 2019

MENJELANG WAKTUNYA KEMBALI (1)


Oleh: Muhammad Ihsan

Adakala kita sering kali lupa akan makna yang tersirat dalam bait bait cinta-Nya. Nada-nada indah ciptakan sebuah simfoni yang kekal memasuki rongga-rongga sukma yang mulai rapuh. Sebagai sebuah contoh, misalnya kalam-Nya dalam perintah puasa. Kita seringkali lupa, bahwa yang Tuhan kehendaki amat sangat jarang berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan.sebagai sebuah upaya pembelajaran, puasa hadir menjenguk hati orang-orang kikir, merawat hati orang-orang muhsin, melatih kelapangan jiwa bagi para pelajar hidup dan kehidupan.
Puasa esensinya merasa, merasakan nikmat yang tanpa henti Tuhan berikan, merasakan payah upaya hidup tak berkecukupan, merasakan ketenangan jiwa, ketabahan hati, dan keluasan sukma menangkap setiap sinyal cinta yang Allah berikan. Hingga berakhir secara formalitas dengan hari kembali yang disebut Ied Fithri.
Pun dalam menyambut hari kembali (Yaumul Ied) lagi-lagi aku lupa bahwa yang dimaksud memakai baju baru tiada berarti menghabiskan waktu belanja berpuluh-puluh jam ditengah keramaian, mencari pakaian terbaik, termahal, termewah, upaya manusia tahu bahwa kita seperti benar-benar telah kembali kedalam ruang kesucian diri.
Kita lupa, bahwa sebaik-baik pakaian ialah taqwa. Aku khilaf, aku dungu, aku pikun. Haruskah aku seperti anak kecil yang khawatir lebarannya tak memakai baju baru? Haruskah setiap tahun berganti, bulan berubah, pekan, hari, bahkan detik dan detak jantung ini, aku masih seperti ini? Tanpa beda, tanpa upaya, dan tanpa hirau bahwa kelak akan ditanya dihadapan-Nya?
Sejenak kita coba mengkaji, dikala orang-orang kaya dengan bangganya mengunjungi mall-mall super besar, ketika orang-orang berpeci sibuk mengisi mimbar-mimbar mesjid, guna memberi nasehat tentang penyucian, ketika orang sibuk dengan dzikirnya, sholatnya, belanjanya, kelaparannya, pendidikan, korupsi, dan sebagainya.
Padahal, diluar sana terdapat banyak orang yang menahan rasa sakit diperutnya karena kelaparan, padahal didepan kita, dihadapan kita, nampak orang yang mengganjal perutnya dengan batu, nampak anak yang menangis Meminta baju baru, kakek lemah tak sanggup membeli sangu, nenek renta menangisi masa lalu. Alangkah piciknya aku, egois, sombong, biadab, apakah pantas aku disebut telah kembali? Apa yang kelak kujawab dari pertanyaan-pertanyaan-Nya di hari akhir?
Ied, artinya kembali. Kembali menentun rajutan-rajutan hidup yang rancu, mengolah ulang ibadah ibadah yang ragu, melepas dosa dan khilaf masa lalu.
Pepatah arab berkata:
ليس العيد لمن لبس الجديد # ولكن العيد لمن طاعته تزيد
“Lebaran bukan untuk memakai baju baru, tapi bagi mereka yang ketaatannya ditambah dari yang dulu”
Singkatnya, pakaian yang seharusnya aku siapkan adalah ketaatan, bukan pakaian badan yang makin dipakai makin lusuh terlihat.
Semoga kita dimaafkan Allah, serta diterima amal amal seluruhnya.
Mohon maaf lahir dan bathin
(ihsan dan semua manusia)
Wallahu A’lam..

Sunday, February 10, 2019

NEGERI PARODI


Oleh: Muhammad Ihsan

kuasa1/ku·a·sa/ n > Kekuasaan, merupakan peranan guna menolong, membantu, memberi,  dan berbagai hal demi kemaslahatan manusia.
Kekuasaan adalah peluang berbuat baik, semakin anda berkuasa semakin berpeluang menenun kebaikan diseluruh wilayah kekuasaan anda.
Namun, bagaimana jika peluang berbuat baik dipropaganda menjadi peluang berbuat buruk?
Sehingga kekuasaan dipegang oleh tangan-tangan picik, licik, egois, dan biadab.

Oke, kita lupakan dulu tentang kekuasaan.
Hari ini, di negeri parodi sedang berlangsung pertikaian sengit demi perebutan kekuasaan antara ganjil dan genap.

Rakyat negeri parodi dicuci otak setiap hari oleh media dan televisi dan dibuat jangar dengan debat-debat kampungan ala politisi bajingan. Mengusung visi, berdagang misi, sampai sampai mengotori nama agama yang itu semua tak lebih dari retorika busuk demi meraih tahta untuk mencuci tangan dengan air kencingnya sendiri.

Padahal,
Negeri sedang diguncang,
Padahal,
Rakyat sedang menjerit kelaparan.
Padahal,
Bencana alam dimana-mana
Padahal,
Degradasi moral sedang terjadi
Padahal,
Degradasi ideologi sedang berlangsung.

Tapi, apa yang anda lakukan wahai para politisi?
Kau menjual air mata kami demi atas tawamu.
Kamu meminum darah kami demi mengatasi dahaga kekuasaanmu.
Kau memeras keringat kami demi untuk kursi empuk istanamu.
Kau menggadaikan perut kosong kami demi kenyangnya perut serakahmu.

Cukup,
Aku muak..
Aku enggan..
Aku lelah..
Aku lemah..
Dan hampir mati mendengar celoteh busukmu.
Aku mohon, berhenti jadi pencaci.
Tebarkan cinta kasih kepenjuru bumi.
Dan mungkin jika besok lusa engkau tiada, setidaknya aku mengenangmu sebagai pahlawaN bangsa..

Wednesday, February 6, 2019

KEKELIRUAN QODYANI


Oleh: Muhammad Ihsan

Agama sebagai sesuatu yang sakral acapkali sering diperdebatkan. Kaum satu dan lainnya saling melegitimasi kebenaran. Tak usah menjadi bahan perpecahan harusnya, tetapi jadikanlah bahan untuk bersatu dalam satu keyakinan. Namun, bagaimana jadinya jika kekeliruan terdapat dalam persoalan fundamental? Kesalahan faham dibidang aqidah sangat sempit untuk disebut maklum. Apa sebab? Karena aqidah merupakan pokok agama, yang di dalamnya terdapat keyakinan akan Tuhan yang Esa, Rasul yang diutus, Kitab sebagai petunjuk jalan menuju Tuhan.
Ahmadiyyah, siapa yang tak mengenali kelompok ini. Kaum yang melegalisasi Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dengan memutar balikkan tafsir ayat خاتم النبيين (Penutup para nabi) menjadi (cincin para nabi/nabi paling mulia).
Namun perlu diketahui bahwa Ahmadiyyah terbagi menjadi dua,
1). Ahmadiyyah Qadyani, yang meyakini Mirza ghulam ahmad sebagai nabi.
2). Ahmadiyyah Lahori, yang tidak meyakini Mirza ghulam sebagai nabi.
Perdebatan dua sekte tersebut cukup sengit. Namun pada tulisan ini, kami mencoba membahas kekeliruan Qadyani (Ahmadiyah Qadyani).
Sebuah hadits dalam kitab sunan Tirmidzi, juz 6 nomor hadita 2220 menyebutkan:

 أنه سيكون من أمتى ثلاثون كذابون يزعم أنه نبي و أناخاتم النبيين لا نبي بعدي

Hadits tersebut menyebutkan bahwasanya akan ada dari golongan umat Rasulullah Saw 30 orang (maknanya banyak) yang mengaku-ngaku sebagai nabi (nabi palsu). Padahal Rosulullah merupakan penutup para nabi, serta tak akan ada lagi nabi setelah Rosulullah Saw.
Para kaum Qadyani berpendapat bahwa makna لا نبي بعدي   adalah Tak ada lagi nabi yang membawa syariat setelah nabi Muhammad Saw. Pemahaman keliru ini terus berlanjut dengan masuknya gerombolan muslim KTP yang tak pernah (minimal) dalam memahami agama yang kemudian sangat mudah dikelabui kaum-kaum sesat dan menyesatkan.
Lebih dari itu, Jemaat Qadyani ketika berargumentasi dengan membawa dalil -dalil berupaya menyimpangkan pemahaman dari tafsir-tafsir para ulama. Seperti dalam Qs. Al ahzab ayat 40 yg telah disebutkan yaitu dalam pemberian makna lafadz  خاتم النبيين.
Dalam upaya bersilat lidah , seringkali kaum ini membawa perkataan Sayyidatina ‘Aisyah RA
قولو خاتم النبيين ولا تقول لا نبي بعده.
  Bagi orang dengan pemahaman dangkal, sangat mungkin untuk mudah percaya tanpa mencari tahu asbabul wurud/asbabul hudus perkataan Sayyidatina Aisyah RA tersebut.
Padahal konteks (siyaq) perkataannya adalah ketika Aisyah RA melarang sahabat dalam mencampur Kalamullah (al Quran) dengan qaul rosul (Hadits). Sehingga ayat tersebut berbunyi:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا

Aisyah RA melarang sahabat menambahkan lafadz لا نبي بعدي  dalam ayat tersebut, agar tidak terjadi percampur adukan antara Al Quran dan al Hadist.
Pemaparan diatas hanya berupaya memancing minat pembaca untuk memperdalam pemahaman Ilmu agama khususnya aqidah dengan mengaji kepada para ulama, karena dewasa ini pengaruh globalisasi dan modernisasi membuat agama seolah kehilangan originalitas dengan banyaknya faham-fahan radikal, liberal, sekuler, dsb..


Sumber: Buku Ahmadiyah Qodyani

Wallahu A'lam...


Pesantren anak jalanan Attamur, 6 Februari 2019

Monday, February 4, 2019

ILMU MENCINTA


Oleh: Muhammad Ihsan

Adakah pernah terbesit di otak kita bahwa andaisaja tak ada yang bernama “benci” maka kehidupan akan tentram? Atau sejenak kita merasa ingin keluar dari zona dimana manusia saling menarik tali busur panahnya untuk membunuh yang ia sebut “musuh”?
Acapkali kita keliru dengan paradigma bahwa menghabisi orang yang dipandang salah akan menyelesaikan masalah. Logika berfikir yang unik, karena mungkin orang yang dieksekusi merasa dirinya lebih benar dari anda. Dan milik siapakah kebenaran itu sejatinya?  Bagi orang yang beriman, tentu percaya bahwa firman Tuhan mutlak kebenarannya. Keyakinan ini tidak salah, namun Yang seringkali keliru adalah dimana tafsir satu kalangan dianggap mutlak kebenarannya dan berani menyalahkan bahkan menyebut sesat tafsir yang lain. Inilah mental mental dungu yang sering kami temukan dilapangan.
Perbedaan pendapat, pandangan, perspektif, paradigma, bahkan keyakinan tidak serta merta memberi lampu hijau untuk saling berperang, mencaci, atau memfitnah satu sama lain.
Bagi banyak orang, kasus tersebut mungkin menyulut amarah yang didorong ego dan ingin menang sendiri. Namun bagi sebagian lain, perbedaan merupakan bentuk rahmat dan pendidikan dari Tuhan untuk makhluknya. Ya, mengapa disebut rahmat dan pendidikan? Karena andaikata di bumi ini hanya hidup satu bangsa, satu pemahaman, satu makanan, satu agama, satu jenis, satu ras dan satu satu yang lainnya, tentu makhluk merasa jenuh, bosan, dan seteruanya. Mengapa demikian? Karena manusia diberi potensi akal untuk berfikir, atas keberanekaragaman ciptaan-Nya yang maha indah. Maka dikatakan perbedaan itu sebuah pelajaran dari Tuhan, yang tidak disampaikan secara talaqqi namun manusia dibekali akal untuk menemukan esensi dari setiap yang dia pandang, dia rasa, dia dengar dan dia cium.
Ilmu mencinta lahir ditengah masyarakat heterogen. Ilmu mencinta tumbuh subur dihati manusia manusia spesial yang memandang semua makhluk dengan cinta kasih dan kesabaran. Inilah esensi agama, agama yang hadir sebagai rahmatan  lil alamin, menerangi setiap hati yang gelap, menyirami setiap jiwa yang tandus, meneduhkan ruh ruh yang panas kering. Seperti perbedaan suami dan istri yang atas dasar perbedaan itulah lahir sakinah mawaddah wa rahmah..

Wallahu A’lam..

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...