Sunday, February 10, 2019

NEGERI PARODI


Oleh: Muhammad Ihsan

kuasa1/ku·a·sa/ n > Kekuasaan, merupakan peranan guna menolong, membantu, memberi,  dan berbagai hal demi kemaslahatan manusia.
Kekuasaan adalah peluang berbuat baik, semakin anda berkuasa semakin berpeluang menenun kebaikan diseluruh wilayah kekuasaan anda.
Namun, bagaimana jika peluang berbuat baik dipropaganda menjadi peluang berbuat buruk?
Sehingga kekuasaan dipegang oleh tangan-tangan picik, licik, egois, dan biadab.

Oke, kita lupakan dulu tentang kekuasaan.
Hari ini, di negeri parodi sedang berlangsung pertikaian sengit demi perebutan kekuasaan antara ganjil dan genap.

Rakyat negeri parodi dicuci otak setiap hari oleh media dan televisi dan dibuat jangar dengan debat-debat kampungan ala politisi bajingan. Mengusung visi, berdagang misi, sampai sampai mengotori nama agama yang itu semua tak lebih dari retorika busuk demi meraih tahta untuk mencuci tangan dengan air kencingnya sendiri.

Padahal,
Negeri sedang diguncang,
Padahal,
Rakyat sedang menjerit kelaparan.
Padahal,
Bencana alam dimana-mana
Padahal,
Degradasi moral sedang terjadi
Padahal,
Degradasi ideologi sedang berlangsung.

Tapi, apa yang anda lakukan wahai para politisi?
Kau menjual air mata kami demi atas tawamu.
Kamu meminum darah kami demi mengatasi dahaga kekuasaanmu.
Kau memeras keringat kami demi untuk kursi empuk istanamu.
Kau menggadaikan perut kosong kami demi kenyangnya perut serakahmu.

Cukup,
Aku muak..
Aku enggan..
Aku lelah..
Aku lemah..
Dan hampir mati mendengar celoteh busukmu.
Aku mohon, berhenti jadi pencaci.
Tebarkan cinta kasih kepenjuru bumi.
Dan mungkin jika besok lusa engkau tiada, setidaknya aku mengenangmu sebagai pahlawaN bangsa..

Wednesday, February 6, 2019

KEKELIRUAN QODYANI


Oleh: Muhammad Ihsan

Agama sebagai sesuatu yang sakral acapkali sering diperdebatkan. Kaum satu dan lainnya saling melegitimasi kebenaran. Tak usah menjadi bahan perpecahan harusnya, tetapi jadikanlah bahan untuk bersatu dalam satu keyakinan. Namun, bagaimana jadinya jika kekeliruan terdapat dalam persoalan fundamental? Kesalahan faham dibidang aqidah sangat sempit untuk disebut maklum. Apa sebab? Karena aqidah merupakan pokok agama, yang di dalamnya terdapat keyakinan akan Tuhan yang Esa, Rasul yang diutus, Kitab sebagai petunjuk jalan menuju Tuhan.
Ahmadiyyah, siapa yang tak mengenali kelompok ini. Kaum yang melegalisasi Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dengan memutar balikkan tafsir ayat خاتم النبيين (Penutup para nabi) menjadi (cincin para nabi/nabi paling mulia).
Namun perlu diketahui bahwa Ahmadiyyah terbagi menjadi dua,
1). Ahmadiyyah Qadyani, yang meyakini Mirza ghulam ahmad sebagai nabi.
2). Ahmadiyyah Lahori, yang tidak meyakini Mirza ghulam sebagai nabi.
Perdebatan dua sekte tersebut cukup sengit. Namun pada tulisan ini, kami mencoba membahas kekeliruan Qadyani (Ahmadiyah Qadyani).
Sebuah hadits dalam kitab sunan Tirmidzi, juz 6 nomor hadita 2220 menyebutkan:

 أنه سيكون من أمتى ثلاثون كذابون يزعم أنه نبي و أناخاتم النبيين لا نبي بعدي

Hadits tersebut menyebutkan bahwasanya akan ada dari golongan umat Rasulullah Saw 30 orang (maknanya banyak) yang mengaku-ngaku sebagai nabi (nabi palsu). Padahal Rosulullah merupakan penutup para nabi, serta tak akan ada lagi nabi setelah Rosulullah Saw.
Para kaum Qadyani berpendapat bahwa makna لا نبي بعدي   adalah Tak ada lagi nabi yang membawa syariat setelah nabi Muhammad Saw. Pemahaman keliru ini terus berlanjut dengan masuknya gerombolan muslim KTP yang tak pernah (minimal) dalam memahami agama yang kemudian sangat mudah dikelabui kaum-kaum sesat dan menyesatkan.
Lebih dari itu, Jemaat Qadyani ketika berargumentasi dengan membawa dalil -dalil berupaya menyimpangkan pemahaman dari tafsir-tafsir para ulama. Seperti dalam Qs. Al ahzab ayat 40 yg telah disebutkan yaitu dalam pemberian makna lafadz  خاتم النبيين.
Dalam upaya bersilat lidah , seringkali kaum ini membawa perkataan Sayyidatina ‘Aisyah RA
قولو خاتم النبيين ولا تقول لا نبي بعده.
  Bagi orang dengan pemahaman dangkal, sangat mungkin untuk mudah percaya tanpa mencari tahu asbabul wurud/asbabul hudus perkataan Sayyidatina Aisyah RA tersebut.
Padahal konteks (siyaq) perkataannya adalah ketika Aisyah RA melarang sahabat dalam mencampur Kalamullah (al Quran) dengan qaul rosul (Hadits). Sehingga ayat tersebut berbunyi:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا

Aisyah RA melarang sahabat menambahkan lafadz لا نبي بعدي  dalam ayat tersebut, agar tidak terjadi percampur adukan antara Al Quran dan al Hadist.
Pemaparan diatas hanya berupaya memancing minat pembaca untuk memperdalam pemahaman Ilmu agama khususnya aqidah dengan mengaji kepada para ulama, karena dewasa ini pengaruh globalisasi dan modernisasi membuat agama seolah kehilangan originalitas dengan banyaknya faham-fahan radikal, liberal, sekuler, dsb..


Sumber: Buku Ahmadiyah Qodyani

Wallahu A'lam...


Pesantren anak jalanan Attamur, 6 Februari 2019

Monday, February 4, 2019

ILMU MENCINTA


Oleh: Muhammad Ihsan

Adakah pernah terbesit di otak kita bahwa andaisaja tak ada yang bernama “benci” maka kehidupan akan tentram? Atau sejenak kita merasa ingin keluar dari zona dimana manusia saling menarik tali busur panahnya untuk membunuh yang ia sebut “musuh”?
Acapkali kita keliru dengan paradigma bahwa menghabisi orang yang dipandang salah akan menyelesaikan masalah. Logika berfikir yang unik, karena mungkin orang yang dieksekusi merasa dirinya lebih benar dari anda. Dan milik siapakah kebenaran itu sejatinya?  Bagi orang yang beriman, tentu percaya bahwa firman Tuhan mutlak kebenarannya. Keyakinan ini tidak salah, namun Yang seringkali keliru adalah dimana tafsir satu kalangan dianggap mutlak kebenarannya dan berani menyalahkan bahkan menyebut sesat tafsir yang lain. Inilah mental mental dungu yang sering kami temukan dilapangan.
Perbedaan pendapat, pandangan, perspektif, paradigma, bahkan keyakinan tidak serta merta memberi lampu hijau untuk saling berperang, mencaci, atau memfitnah satu sama lain.
Bagi banyak orang, kasus tersebut mungkin menyulut amarah yang didorong ego dan ingin menang sendiri. Namun bagi sebagian lain, perbedaan merupakan bentuk rahmat dan pendidikan dari Tuhan untuk makhluknya. Ya, mengapa disebut rahmat dan pendidikan? Karena andaikata di bumi ini hanya hidup satu bangsa, satu pemahaman, satu makanan, satu agama, satu jenis, satu ras dan satu satu yang lainnya, tentu makhluk merasa jenuh, bosan, dan seteruanya. Mengapa demikian? Karena manusia diberi potensi akal untuk berfikir, atas keberanekaragaman ciptaan-Nya yang maha indah. Maka dikatakan perbedaan itu sebuah pelajaran dari Tuhan, yang tidak disampaikan secara talaqqi namun manusia dibekali akal untuk menemukan esensi dari setiap yang dia pandang, dia rasa, dia dengar dan dia cium.
Ilmu mencinta lahir ditengah masyarakat heterogen. Ilmu mencinta tumbuh subur dihati manusia manusia spesial yang memandang semua makhluk dengan cinta kasih dan kesabaran. Inilah esensi agama, agama yang hadir sebagai rahmatan  lil alamin, menerangi setiap hati yang gelap, menyirami setiap jiwa yang tandus, meneduhkan ruh ruh yang panas kering. Seperti perbedaan suami dan istri yang atas dasar perbedaan itulah lahir sakinah mawaddah wa rahmah..

Wallahu A’lam..

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...