Tuesday, November 14, 2017

Tashrif Tsulasi Mujarrod



ثلاثى مجرّد
TASHRIF
Bab 1 Wazanna:
فَعَلَ – يَفْعُلُ – فَعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – أُفْعُلْ - لَاتُفْعِلْ – مُفْعَلٌ – مُفْعَلٌ – مِفْعَلٌ
Bab ka 2 Wazanna:
فَعَلَ – يَفْعِلُ – فَعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – إِفْعِلْ - لَاتُفْعِلْ – مُفْعَلٌ – مُفْعَلٌ - مِفْعَلٌ
Bab Ka 3 Wazana:
فَعَلَ – يَفْعَلُ – فَعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – إِفْعَلْ - لَاتَفْعَلْ – مَفْعَلٌ – مَفْعَلٌ – مِفْعَلٌ
Bab Ka 4 Wazanna:
فَعِلَ – يَفْعَلُ – فِعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – إِفْعَلْ - لَاتَفْعَلْ – مَفْعَلٌ – مَفْعَلٌ – مِفْعَلٌ
Bab Ka 5 Wazanna:
فَعُلَ – يَفْعُلُ - فُعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ – فَعَلٌ -  فَعِيْلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ بِه – إُفْعُلْ - لَاتَفْعُلْ - مَفْعَلٌ- مُفْعَلٌ
Bab Ka 6 Wazanna:
فَعِلَ – يَفْعِلُ – فَعَلًا – فِعْلاَنًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – إِفْعِلْ - لَاتَفْعِلْ – مَفْعَلٌ – مَفْعَلٌ – مِفْعَلٌ



 QIYAS
Fi’il Amar                    Fi’il Mudhore                     Fi’il Madhi
نَصَرَ                                 يَنْصُرُ                                      أُنْصُرْ
نَصَرَا                               يَنْصُرَانِ                                    أُنْصُرَا
نَصَرُوْ                               يَنْصُرُوْنَ                                  أُنْصُرُوْ
نَصَرَتْ                             تَنْصُرُ                                      أُنْصُرِيْ
نَصَرَتَا                               تَنْصُرَانِ                                   أُنْصُرَا
نَصَرْنَ                               يَنْصُرْنَ                                    أُنْصُرْنَ
نَصَرْتَ                              تَنْصُرُ                                     أُنْصُرَنَّ
نَصَرْتُمَا                              تَنْصُرانِ                                 أُنْصُرَانِّ
نَصَرْتُمْ                                تَنْصُرُوْنَ                                أُنْصُرُ
نَصَرْتِ                               تَنْصُرِينَ                                أُنْصُرِ
نَصَرْتُمَا                               تَنْصُرَانِ                               أُنْصُرَا
نَصَرْتُنَّ                                تَنْصُرْنَ                                أُنْصُرْنَانِ
نَصَرْتُ                                أَنْصُرُ                                  أُنْصُرَنْ
نَصَرْنَا                                 نَنْصُرُ                                  أُنْصُرُنْ
                                                             أُنْصُرِنْ

Saturday, September 30, 2017

Puisi "Sepi Bersama Kopi"



Dalam diam ku berteman dengan kedamaian,
Dalam sepi ku berteman dengan kesunyian,
Di atas singgana cinta ku tunggu putusan,
Antara angan ataukah harapan,

Terkadang cinta memang buta,
Dia singgah bersama hati yang luka,
Menerkam erat pusaran jiwa,
Terukir indah dalam dinding hati yang hampa,

Entahlah, mungkin ini cinta sejati,
Yang tertuang dalam seduhan kopi,
Rasakan aroma masuk ke hati,
Bagai air mengalir sepi,

Alunan rindu menyeru qalbu,
Menyatu bersama gemercik hujan nan syahdu,
Mengalun dalam dawai dzikir malamku,
Bersama simfoni do’a sujudku..

#santriLiterasi
#mahbubah
#Sabandungeun #parisVanJava 
#KopiSumberInspirasi 

 

Friday, September 29, 2017

Sekularisme




Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antar pemerintahan dan agama Negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan perbedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.
Sekularisme, seringkali dikaitkan dengan Era Pencerahan di Eropa, dan memainkan peranan utama dalam peradaban barat. Prinsip utama pemisahan gereja dan negara di di Amerika Serikat dan Laisisme di Prancis, di dasarkan dari sekularisme.
   Sekularisme pertama kali digunakan oleh George Jacob Holyoake pada tahun 1846.[1] Walaupun istilah sekularisme merupakan suatu hal yang baru, tetapi kebebasan berfikir yang di dasarkan pada sekularisme telah ada sepanjang sejarah.
   George Jacob Holyoake berpendapat bahwa “Secularism is an ethical system founded on the principle of natural morality and independent of revealed religion or supranatularism”.[2] (Sekularisme adalah suatu system etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama, wahyu dan supranaturalisme). Definisi tersebut dapat diartikan bahwa sekularisme mendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan dari tuntutan dan pemaksaan akan suatu kepercayaan tertentu dan keberpihakan terhadap suatu agama mayoritas.
   Dengan kata lain, sekularisme adalah nama sebuah ideology yang fungsinya mirip dengan agama[3], yang mengakibatkan kebebasan hidup manusia tanpa mengenal azab, siksa, maupun dosa dan menganggap tuhan tidak diperlukan lagi.
Sekularisme menurut Harun Nasution adalah proses penduniawian. Yaitu proses pelepasan hidup duniawi dari kontrol agama, dengan demikian proses sekularisasi adalah proses melepaskan diri dari agama dan bisa berakibat atau mengarah pada atheism.[4]
    Menurut Juhaya S. Praja, prinsip yang esensial sekularisme ialah mencari kemajuan dengan alat materi semata-mata, sedangkan esensi materialism Dengan demikian tampak bahwa sekularisme termasuk kategori materialisme.
Istilah ”sekular, sekularisme, sekularis”[5] untuk mengkaji orientasi ideologi gerakan Islam merupakan istilah yang masih kabur. Penggunaan masih kurang sesuai dengan maknanya, telah membuat para ilmuan Islam menolak untuk menggunakan konsep ini terkait dengan agama Islam. Mereka yang menolak penggunaan konsep ini mendasarkan pada perbedaan pengalaman sejarah dan budaya Eropa (asal istilah ini muncul) dengan dunia Islam. Banyak ilmuan politik dan sosiologi mengatakan bahwa istilah sekularisme dan sekularisasi hanya bisa dipakai untuk menjelaskan keunikan sejarah Barat, dan karena itu seharusnya tidak diperluas ke kawasan non-Barat. Hal ini karena masyarakat Muslim tidak memiliki pengalaman langsung berkaitan dengan Renaissance, Reformasi, Revolusi industri, atau pencerahan.   Dalam Islam tidak ada gerakan yang mempersoalkan dasardasar ajaran pokok Islam dari dalam sebagaimana yang dilakukan oleh Martin Luther dalam agama Kristen.  akar sejarahnya sekularisme, semula muncul di yunani, dan Romawi kuno serta agama-agama  di timur jauh yang percaya adanya kepada  Dewa, kemudian berkembang pada masa aflarung (pencerahan) ketika gereja berkuasa di Eropa, yang merupakan gerakan untuk memutuskan hubungan antara agama dan kebudayaan. Pada waktu  itu  para ilmuwan tidak  berkutik menghadapi  pengaruh  gereja yang  cukup  dominan.  Atas dasar itu, maka sekularisme dianggap sebagai ajaran yang tidak mempunyai landasan yang kuat dalam Islam, baik dalam konsep maupun gerakannya. Pada perkembangan selanjutnya sekularisme semakin rumit (rigit)  bahkan menjadi perdebatan (discourse) di kalangan kaum muslimin Karena itu pengetahuan tentang sekularisme baik berkenaan latar belakang munculnya essensinya, perlu dipahami oleh kaum muslimin khususnya para ilmuwan dan tokoh-tokohnya agar tidak terjebak dalam sekularisme atau sekularisasi.  
Sebagai sebuah proses sosial, yang terjadi dibawah kontrol seseorang, sekularisasi berusaha menyingkirkan perang otoritas keagamaan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, sebuah masyarakat menjadi sekular ketika agama termarjinalkan dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Dalam kaitan ini, sekularis adalah orang  yang percaya bahwa persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan harus terbebas dari semua aturan agama dan dogma.[6]  Jadi secara umum sekularisme adalah paham yang berpandangan bahwa agama tidak berurusan dengan persoalan ke duniaan yaitu persoalan politik dan sosial budaya. Agama cukup bergelut dengan ritual keagamaan. Dengan mendasarkan standar etika dan tingkah laku pada referensi kehidupan sekarang dan kesejahteraan sosial tanpa merujuk pada agama.  Atas dasar itu islam menentang sekularisasi karena islam tidak memiliki potensi sama sekali terjadinya proses sekularisasi. Pernyataan ini didukung oleh para ilmuwan islam yang tergabung di dalamnya para teolog (mutakallim), mufassirin, muhaddisin, filosof islam, sejarawan dan lain-lain, walaupun mereka cendrung (fokus) pada bidang-bidang tertentu dalam kajian agama islam. 
Fazlur Rahman mengatakan bahwa sekularisme dalam Islam adalah penerimaan hukum dan institusi sosial serta politik selain Islam dalam kehidupan umum. Walaupun karena itu, jatuhnya modrenisme kedalam sekularisme jauh lebih buruk dari pada penyimpangan teologi kristen di abad pertengahan karena menghangcurkan nilai universalitas seperti yang di pertontonkan masyarakat oleh masyarakat barat (eropa). Alah hidup barat adalah positifis, pragmatis materialistik dan hedonis dengan menafikkan hal-hal yang bersifat metafisik, abstrack, Keilahian.[7]   Sekularisme tercatat dalam sejarah islam ketika pemikiran islam mandek dan di tutupnya pintu ijtihad yang ditandai dengan gagalnya hukum-hukum Islam memberi dinamika dalam mengawal perubahan yang terjadi sebagai konsekuensi sesuai perkembangan zaman. Hal ini membuat jurang pemisah antara agama dengan urusan-urusan keduniaan. Dalam kaitan ini tentu saja orangorang barat memilih dunia an sich atau sekuler dengan sekala implikasinya sementara orang-orang yang berlatar belakang agama (khususnya Islam) otomatis memilih agama sebagai pandangan hidupnya (rule of low dan way of life) . Contoh yang konkrit dalam hal ini adalah sekularisme Turki Utsmani dengan kemal Attaturknya.  Dengan demikian sekularisme menjadi subur dalam perkembangan Islam bahkan generasinya cendrung anarkis dan tidak berprikemanusiaan, menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu durjana angkaramurkanya  Dari uraian/pembahasan yang dipaparkan di atas dapat dipahami bahwa ide sekularisme pada mulanya muncul dari Eropa yang didorong oleh falsafat yang dianutnya yaitu positifisme, eksistensialisme, pragmatisme serta fenomenologi yang merupakan bias dari filsafat yunani kuno yang mereka maknai sebagai suatu metode impestigasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala penerapannya. Walaupun diantara mereka (pemikir Barat) cendrung mempercayai Tuhan,  dan Tuhan tidak dikonsepsikan sebagai ateisme, namun tuhan itu  tidak terjangkau oleh akal dan Tuhan tidak mempengaruhi prilaku manusia. Karena itu sekularisme dalam prakteknya hanya cendrung terhadap masalahmasalah realitas kehidupan dunia dan mengeyampingkan persoalan kerohanian spritual dan kehidupan akhirat yang merupakan bagian dari doktrin keagamaan.

#SantriLiterasi
#Chairilfhata
#Mahbubah

Wallahu A'lam


[1] Budhy Munawar Rachman, Argumen Islam Untuk Sekularisme, (Jakarta: Gramedia, 2010) Hlm. 3
[2] Ibid, Hlm. 4
[3] Maksun, Islam, Sekularisme dan JIL, (Semarang: Walisongo press, 2009), Hlm. 15
[4] Harun Nasuton, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1995), Hlm 188
[5] Ahmad jainuri, Orientasi ideology gerakan islam , konserfatisme, fundamentalisme, sekularisme, dan modernisme (Surabaya : Ipam, 2004,) hlm  83-84
[6] Ilyas Bayunus dan Farit Ahmad, Sosiologi Islam Dan Masyarakat Kontemporer (Bandung : Mizan, 1996), hlm54
[7] Fazlur Rahman, Islam Dan Modrenitas ( Bandung:  Pustaka, 1405/1985), h   16. Dan  Nurcholish Majid, Islam, Doktrin Dan Peradaban  (Jakarta: Paramadina, 1992)  h.  181-182

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...