Saturday, October 27, 2018

PEMUDA REVOLUSIONER

Oleh: Muhammad Ihsan





28 oktober 1928 menjadi hari bersejarah bagi kaula muda bangsa ini. Hari dimana seluruh kaum muda-mudi negeri ini bersatu menjadi satu suara, satu semangat, dan satu pergerakan yang kemudian menjadi elemen kuat dalam memberantas penjajahan yang terjadi di bumi pertiwi.
‘Sumpah Pemuda’, berperan merubah paradigma anak bangsa dari cara berfikir kerdil dan sumbu pendek menjadi pola berfikir panjang dan revolusioner. ‘Sumpah Pemuda’ kemudian meramu putra-putri bangsa menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika.
Dengan ‘Sumpah pemuda’, anak bangsa sadar bahwa pluralisme merupakan hal yang harusnya menjadi sebab persatuan bukan perpecahan. Dengan ‘Sumpah Pemuda’, teriakan suara serta kobaran semangat dari seluruh pelosok nusantara menjadi SATU dan kemudian rakyat Indonesia membuat satu shaf utuh sebagai bangsa yang layak merdeka dengan ‘Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Persatuan’.
Lalu, apakabar Pemuda hari ini?
Bung Karno pernah berkata: “Beri Aku Sepuluh Pemuda, maka akan ku guncangkan Dunia..!!”
Semua orang tentu hafal kata-kata itu, namun kemudian siapakah satu dari sepuluh pemuda itu? Kami berasumsi bahwa sepuluh pemuda yang ditunjuk Bung Karno untuk mengguncang dunia bukanlah mereka yang terlena dengan narkoba, bukan pula mereka yang sibuk dengan update statusnya, atau juga yang sibuk berdemo mengatasnamakan agama guna meruntuhkan kedaulatan NKRI.
Hey Para Pemuda..!!
Masa depan bangsa ini ada dipundak masing-masing kalian. Cita-cita para pendiri negeri ada di pangkuan kalian. Lalu sampai kapan kita akan berpangku tangan?
Pemuda bertugas sebagai Agen Of Change, Agen Of Control, dan Agen Of Knowledge.
Pemuda yang dipanggil Bung Karno adalah Mereka yang memiliki Mimpi besar serta visi dan misi revolusioner demi menatap masa depan yang cerah demi kemajuan NKRI.
Kasus Empirik yang kita dapati hari ini sangatlah jauh dari impian para pahlawan. Pemuda hari ini cenderung antipati terhadap nilai-nilai social kemasyarakatan. Pemuda hari ini begitu mudah di adu domba dengan mengibarkan bendera perpecahan. Pemuda hari ini cenderung Rasis dan tidak menerima perbedaan.
Mari kita perbaiki diri, demi Menjadi Pemuda revolusioner yang bersatu padu saling bersatu antar suku, bersama walau beda agama, dan menjunjung nilai-nilai Kebhinekaan demi terwujudnya Negara yang aman, damai, dan sejahtera.



#SelamatHariSumpahPemuda
#TimnasDay #LawanKemustahilan #HariSantrinasional #KawasanBebasMANTAN
#SANBELA #BTQForLeaders #ATTAMUR


Saturday, April 14, 2018

Vine New

"Cinta Tanpa Kerapuhan"

Oleh: Muhammad Ihsan


Aku cemburu..
Kepada rintik hujan yang kerap menyapamu,
Aku kesal,
Kepada semua orang yang menarik perhatianmu,
Aku Marah,
Kepada diriku yang lemah karena mencintaimu,.

Bahkan di setiap detak dan detik,
Cemas hati tak henti,
Angan emosi kerap menjadi,
Karena mencintai, berarti siap disakiti,

Aku heran, pada kesetiaan gelap pada malam,
Atau seperti bumi pada porosnya,
Hatiku bukan mereka,
Yang memberi Cinta tanpa kerapuhan..


#Bandung, 14 April 2018



Friday, March 9, 2018

Komersialisasi Pendidikan


Oleh: Muhammad Ihsan


Dunia pendidikan kerap menjadi sorotan publik akhir-akhir ini, kasus-kasus penyimpangan norma, pelecehan seksual, hingga hal-hal yang berbau “Rasis” kian menjamur ditengah kaum akademisi. Acap kali para mahasiswa, dosen dan kaum intelektual lainnya melakukan penyimpangan dari tugas yang seharusnya dilakukan di kampus.
“Komersialisasi Pendidikan” istilah yang tidaklah asing di telinga mahasiswa. Merupakan perbuatan yang dapat meracuni pendidikan di negeri ini. Sebut saja istilah ini dengan perdagangan di lahan pendidikan, tentu sangatlah berbahaya jika kasus komersialisasi di ranah akademik hanya di anggap hal yang sepele.
Berbagai bentuk pendidikan yang dijadikan komersil oleh oknum-oknum serakah, bukan hanya berakibat terhadap esensi dan eksistensi pendidikan itu sendiri, melainkan dapat mendiskriminasi kaum ekonomi lemah dalam mendapat pendidikan yang layak dan setara.
Penulis mengamati salahsatu bentuk kegiatan yang dapat mendiskriminasi kaum menengah kebawah, seperti syarat untuk mendapat nilai “A” dalam suatu mata kuliah adalah dengan membeli buku dosen dengan harga ratusan ribu rupiah. Bagi Sebagian kalangan, mendapat nilai “A” dengan cara demikian tidaklah sulit, namun bagaimana dengan para pelajar dan mahasiswa ber-ekonomi lemah? Apakah mereka harus mendapat nilai rendah karena ekonomi yang tercekik? Apakabar dengan hal seperti ini?
Bentuk yang lainnya adalah meningginya biaya kuliah semester, yang melangit. Negara seolah bungkam mengenai hal ini. Sebagaimana kita tahu, Indonesia tidaklah dihuni oleh orang kaya saja, masih ada jutaan kaum ekonomi rendah yang mengidamkan pendidikan yang tinggi. Dana beasiswa yang mulai di utak-atik kaum penguasa demi kekenyangan perut serakah mereka, ditambah biaya kuliah yang menjulang tinggi tak mampu digapai mahasiswa kebanyakan adalah problem terbesar bangsa ini.
Efek candu dan keterbatasan pola pikir akibat faktor ekonomi dimanfaatkan kalangan asing dan aseng untuk menguras tenaga rakyat guna dijadikan ‘jongos’ perusahaan. Mindset anak bangsa dengan mudah diracuni dengan pola pikir yang apatis menjadi kaum sumbu pendek yang egois. Jika terus dibiarkan, maka bangsa ini akan menjadi milik oranglain dalam kurun waktu beberapa tahun saja.
Cita-cita para pendahulu bangsa yang menginginkan negeri ini merdeka seutuhnya hanya akan menjadi angan kosong belaka, karena anak bangsa sejatinya tidak disiapkan sebagai generasi penerus perjuangan leluhur yang suci, melainkan hanya memperpanjang mata rantai masa rodi dan romusa dimana anak negeri menjadi ‘babu’ di negerinya sendiri.
Itu semua adalah hasil turunan dari komersialisasi yang menjamur belakangan ini.
Kritik demi kritik seringkali dilontarkan para aktivis yang terus mengamati lelucon dan sandiwara politik, hanya entah kemana pejabat yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada rakyat, Adakah mereka tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu dengan berbagai kasus yang terjadi?
Ranah pendidikan yang dikomersilkan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia komersil dikemudian hari, yang perpegang teguh pada kekuasaan uang dan tak punya hati nurani.

“Ya Allah, jadikanlah Indonesia ini menjadi negeri yang aman dan sejahtera. Dimana semua penduduknya ta’at patuh kepada-Mu” Amiin..

Monday, March 5, 2018

Aku Dalam Bahasa Cinta


CINTA begitulah orang memanggilnya, sebuah karya indah Tuhan nan Agung, sebagai perwujudan salah satu sifatnya sebagai Sang Maha Kasih dan Sayang. Dia yang menciptakan segala sesuatu dalam keadaan berpasang-pasangan.

إذا لم يزدك البعد حبا فأنت لم تحب حقا


Aku,
Adalah serpihan puing dalam kesatuan cinta-Nya,
Adalah setitik air dalam lautan Kasih-Nya,
Sebutir pasir dalam gurun Ampunan-Nya,
Sedetik waktu dalam Keabadian-Nya,

Dia
Sang maha Akan segalanya,
Hidupku dalam ketetapan Kuasa-Nya,
Sang Maha cinta, Pemberi anugerah cinta,
Matiku seketika atas Kehendak-Nya.

Dalam bahasa cinta, Aku adalah hamba-Nya,
Dengan nama cinta, Aku bersimpuh di hadapan-Nya.
Rukuk, terbang dalam cakrawala Ridha-Nya,
Sujud, tenggelam dalam harap rahmat-Nya,

Adakah aku, kekasih bagi-Nya?
Dalam bahasa Cinta, Aku adalah Dia,
Dia yang tak mempunyai ketiadaan,
Hingga Aku, menghilang dalam hakikatnya


Wahai Allah Sang Maha Kasih,
Ku Sembahkan Cinta ini atas-Mu seutuhnya,

Dalam bahasa cinta, Aku adalah kamu yang ku harapkan,
Dalam bahasa cinta, Aku adalah engkau yang terlafalkan.



(Pesantren Anak Adam jalan menuju Tuhan)

Friday, March 2, 2018

Bintan, 22 September 1997

Bintan,
Disetiap detik hariku,
Ingin ku seka air mata,
Seperti para pencinta,

Bintan,
Di setiap hembus nafasku,
Ingin ku utarakan cinta,
Seperti saat dulu kulakukannya,

Disetiap Hujan diutus Tuhan,
Ku sembunyikan rintik rindu bersamanya,
Di setiap petang menjelang,
Ku titipkan seutas harap agar lelap bersamanya,

Tentang memilikimu, aku mengalah,
Perihal merindukanmu, izinkanlah,
Biar kumiliki rindu ini hingga senja tak lagi ada,

Tak perlu kau hirau, bunyi hatiku patah.

Biarkan lubukku remuk menanti,

Menanti Tuhan merestui Aku pergi..

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...