Friday, March 9, 2018

Komersialisasi Pendidikan


Oleh: Muhammad Ihsan


Dunia pendidikan kerap menjadi sorotan publik akhir-akhir ini, kasus-kasus penyimpangan norma, pelecehan seksual, hingga hal-hal yang berbau “Rasis” kian menjamur ditengah kaum akademisi. Acap kali para mahasiswa, dosen dan kaum intelektual lainnya melakukan penyimpangan dari tugas yang seharusnya dilakukan di kampus.
“Komersialisasi Pendidikan” istilah yang tidaklah asing di telinga mahasiswa. Merupakan perbuatan yang dapat meracuni pendidikan di negeri ini. Sebut saja istilah ini dengan perdagangan di lahan pendidikan, tentu sangatlah berbahaya jika kasus komersialisasi di ranah akademik hanya di anggap hal yang sepele.
Berbagai bentuk pendidikan yang dijadikan komersil oleh oknum-oknum serakah, bukan hanya berakibat terhadap esensi dan eksistensi pendidikan itu sendiri, melainkan dapat mendiskriminasi kaum ekonomi lemah dalam mendapat pendidikan yang layak dan setara.
Penulis mengamati salahsatu bentuk kegiatan yang dapat mendiskriminasi kaum menengah kebawah, seperti syarat untuk mendapat nilai “A” dalam suatu mata kuliah adalah dengan membeli buku dosen dengan harga ratusan ribu rupiah. Bagi Sebagian kalangan, mendapat nilai “A” dengan cara demikian tidaklah sulit, namun bagaimana dengan para pelajar dan mahasiswa ber-ekonomi lemah? Apakah mereka harus mendapat nilai rendah karena ekonomi yang tercekik? Apakabar dengan hal seperti ini?
Bentuk yang lainnya adalah meningginya biaya kuliah semester, yang melangit. Negara seolah bungkam mengenai hal ini. Sebagaimana kita tahu, Indonesia tidaklah dihuni oleh orang kaya saja, masih ada jutaan kaum ekonomi rendah yang mengidamkan pendidikan yang tinggi. Dana beasiswa yang mulai di utak-atik kaum penguasa demi kekenyangan perut serakah mereka, ditambah biaya kuliah yang menjulang tinggi tak mampu digapai mahasiswa kebanyakan adalah problem terbesar bangsa ini.
Efek candu dan keterbatasan pola pikir akibat faktor ekonomi dimanfaatkan kalangan asing dan aseng untuk menguras tenaga rakyat guna dijadikan ‘jongos’ perusahaan. Mindset anak bangsa dengan mudah diracuni dengan pola pikir yang apatis menjadi kaum sumbu pendek yang egois. Jika terus dibiarkan, maka bangsa ini akan menjadi milik oranglain dalam kurun waktu beberapa tahun saja.
Cita-cita para pendahulu bangsa yang menginginkan negeri ini merdeka seutuhnya hanya akan menjadi angan kosong belaka, karena anak bangsa sejatinya tidak disiapkan sebagai generasi penerus perjuangan leluhur yang suci, melainkan hanya memperpanjang mata rantai masa rodi dan romusa dimana anak negeri menjadi ‘babu’ di negerinya sendiri.
Itu semua adalah hasil turunan dari komersialisasi yang menjamur belakangan ini.
Kritik demi kritik seringkali dilontarkan para aktivis yang terus mengamati lelucon dan sandiwara politik, hanya entah kemana pejabat yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada rakyat, Adakah mereka tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu dengan berbagai kasus yang terjadi?
Ranah pendidikan yang dikomersilkan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia komersil dikemudian hari, yang perpegang teguh pada kekuasaan uang dan tak punya hati nurani.

“Ya Allah, jadikanlah Indonesia ini menjadi negeri yang aman dan sejahtera. Dimana semua penduduknya ta’at patuh kepada-Mu” Amiin..

No comments:

Post a Comment

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...