Oleh: Muhammad Ihsan
Dunia pendidikan kerap menjadi
sorotan publik akhir-akhir ini, kasus-kasus penyimpangan norma, pelecehan
seksual, hingga hal-hal yang berbau “Rasis” kian menjamur ditengah kaum
akademisi. Acap kali para mahasiswa, dosen dan kaum intelektual lainnya
melakukan penyimpangan dari tugas yang seharusnya dilakukan di kampus.
“Komersialisasi
Pendidikan” istilah yang
tidaklah asing di telinga mahasiswa. Merupakan perbuatan yang dapat meracuni
pendidikan di negeri ini. Sebut saja istilah ini dengan perdagangan di lahan
pendidikan, tentu sangatlah berbahaya jika kasus komersialisasi di ranah
akademik hanya di anggap hal yang sepele.
Berbagai bentuk pendidikan yang
dijadikan komersil oleh oknum-oknum serakah, bukan hanya berakibat terhadap
esensi dan eksistensi pendidikan itu sendiri, melainkan dapat mendiskriminasi
kaum ekonomi lemah dalam mendapat pendidikan yang layak dan setara.
Penulis mengamati salahsatu bentuk
kegiatan yang dapat mendiskriminasi kaum menengah kebawah, seperti syarat untuk
mendapat nilai “A” dalam suatu mata kuliah adalah dengan membeli buku dosen
dengan harga ratusan ribu rupiah. Bagi Sebagian kalangan, mendapat nilai “A”
dengan cara demikian tidaklah sulit, namun bagaimana dengan para pelajar dan
mahasiswa ber-ekonomi lemah? Apakah mereka harus mendapat nilai rendah karena
ekonomi yang tercekik? Apakabar dengan hal seperti ini?
Bentuk yang lainnya adalah
meningginya biaya kuliah semester, yang melangit. Negara seolah bungkam
mengenai hal ini. Sebagaimana kita tahu, Indonesia tidaklah dihuni oleh orang
kaya saja, masih ada jutaan kaum ekonomi rendah yang mengidamkan pendidikan
yang tinggi. Dana beasiswa yang mulai di utak-atik kaum penguasa demi
kekenyangan perut serakah mereka, ditambah biaya kuliah yang menjulang tinggi
tak mampu digapai mahasiswa kebanyakan adalah problem terbesar bangsa ini.
Efek candu dan keterbatasan pola pikir
akibat faktor ekonomi dimanfaatkan kalangan asing dan aseng untuk
menguras tenaga rakyat guna dijadikan ‘jongos’ perusahaan. Mindset anak
bangsa dengan mudah diracuni dengan pola pikir yang apatis menjadi kaum sumbu
pendek yang egois. Jika terus dibiarkan, maka bangsa ini akan menjadi milik
oranglain dalam kurun waktu beberapa tahun saja.
Cita-cita para pendahulu bangsa yang
menginginkan negeri ini merdeka seutuhnya hanya akan menjadi angan kosong
belaka, karena anak bangsa sejatinya tidak disiapkan sebagai generasi penerus
perjuangan leluhur yang suci, melainkan hanya memperpanjang mata rantai masa
rodi dan romusa dimana anak negeri menjadi ‘babu’ di negerinya sendiri.
Itu semua adalah hasil turunan dari
komersialisasi yang menjamur belakangan ini.
Kritik demi kritik seringkali
dilontarkan para aktivis yang terus mengamati lelucon dan sandiwara politik,
hanya entah kemana pejabat yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada rakyat,
Adakah mereka tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu dengan berbagai kasus yang
terjadi?
Ranah pendidikan yang dikomersilkan,
hanya akan menghasilkan manusia-manusia komersil dikemudian hari, yang
perpegang teguh pada kekuasaan uang dan tak punya hati nurani.
“Ya Allah, jadikanlah Indonesia ini
menjadi negeri yang aman dan sejahtera. Dimana semua penduduknya ta’at patuh
kepada-Mu” Amiin..

No comments:
Post a Comment