Anak muda adalah agen penerus
perjuangan bangsa, di pundaknya terletak tanggung jawab masa depan negeri, di
kepalanya tertanam pengetahuan perjuangan ibu pertiwi. Anak muda adalah kaum
revolusioner Indonesia, maka hendaknya dibekali pengetahuan mumpuni untuk Indonesia
yang lebih baik.
Acap kali anak muda dibenturkan
dengan persoalan logika dan spiritual, yang membuatnya resah hingga meninggalkan
2 organ penting ini.
Pembenturan logika dan agama adalah
merupakan upaya doktrin para oknum pejabat negeri yang ingin merusak budaya dan
masa depan bangsa.
Oleh karenanya, pengetahuan saja
tidaklah cukup untuk mencetak anak muda superstar maka sangatlah perlu anak
muda Indonesia mendapat pendidikan karakter yang cukup untuk melahirkan anak
muda yang agamis, kritis, dan berakhlakul karimah.
Sekolah, bukanlah agen utama dalam
pendidikan karakter ini. Sekolah adalah media siswa belajar ilmu pengetahuan. Sedangkan
pendidikan karakter membutuhkan bimbingan khusus dari orang-orang yang mengawal
siswa mulai bangun tidur sampai lelap lagi.
Dimanakah itu?
Tentu, keluarga seharusnya menjadi
pembimbing karakter bagi anak-anaknya.
Namun sayang, orangtua modernis
tidaklah peduli dengan itu. Logika mereka berpendapat bahwa uang dan harta yang
melimpahlah bekal hidup anak-anak mereka kelak.
Oleh karenanya, penulis meneliti dan
mengamati hingga membagi manusia menjdi 3:
1.
Manusia
alumni sekolah (saja): mereka cerdas secara intelektual, kritis dalam mengamati
kasus, namun moral adalah masalah bagi mereka. Arena mereka tidak mendapat
pendidikan akan hal itu.
2.
Manusia
alumni perumahan: tidak kami dapati keunggulannya.
3.
Manusia
jebolan pesantren: akhlak mulia, rendah hati, disertai cerdas intelektual. Karena
mereka mendapatkan semuanya.
Demikan, untuk
penilaiannya penulis serahkan kepada para pembaca.
Wallahu A’lam…

No comments:
Post a Comment