Oleh: Muhammad Ihsan
Adakala kita sering kali lupa akan makna yang tersirat dalam bait bait cinta-Nya. Nada-nada indah ciptakan sebuah simfoni yang kekal memasuki rongga-rongga sukma yang mulai rapuh. Sebagai sebuah contoh, misalnya kalam-Nya dalam perintah puasa. Kita seringkali lupa, bahwa yang Tuhan kehendaki amat sangat jarang berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan.sebagai sebuah upaya pembelajaran, puasa hadir menjenguk hati orang-orang kikir, merawat hati orang-orang muhsin, melatih kelapangan jiwa bagi para pelajar hidup dan kehidupan.
Puasa esensinya merasa, merasakan nikmat yang tanpa henti Tuhan berikan, merasakan payah upaya hidup tak berkecukupan, merasakan ketenangan jiwa, ketabahan hati, dan keluasan sukma menangkap setiap sinyal cinta yang Allah berikan. Hingga berakhir secara formalitas dengan hari kembali yang disebut Ied Fithri.
Pun dalam menyambut hari kembali (Yaumul Ied) lagi-lagi aku lupa bahwa yang dimaksud memakai baju baru tiada berarti menghabiskan waktu belanja berpuluh-puluh jam ditengah keramaian, mencari pakaian terbaik, termahal, termewah, upaya manusia tahu bahwa kita seperti benar-benar telah kembali kedalam ruang kesucian diri.
Kita lupa, bahwa sebaik-baik pakaian ialah taqwa. Aku khilaf, aku dungu, aku pikun. Haruskah aku seperti anak kecil yang khawatir lebarannya tak memakai baju baru? Haruskah setiap tahun berganti, bulan berubah, pekan, hari, bahkan detik dan detak jantung ini, aku masih seperti ini? Tanpa beda, tanpa upaya, dan tanpa hirau bahwa kelak akan ditanya dihadapan-Nya?
Sejenak kita coba mengkaji, dikala orang-orang kaya dengan bangganya mengunjungi mall-mall super besar, ketika orang-orang berpeci sibuk mengisi mimbar-mimbar mesjid, guna memberi nasehat tentang penyucian, ketika orang sibuk dengan dzikirnya, sholatnya, belanjanya, kelaparannya, pendidikan, korupsi, dan sebagainya.
Padahal, diluar sana terdapat banyak orang yang menahan rasa sakit diperutnya karena kelaparan, padahal didepan kita, dihadapan kita, nampak orang yang mengganjal perutnya dengan batu, nampak anak yang menangis Meminta baju baru, kakek lemah tak sanggup membeli sangu, nenek renta menangisi masa lalu. Alangkah piciknya aku, egois, sombong, biadab, apakah pantas aku disebut telah kembali? Apa yang kelak kujawab dari pertanyaan-pertanyaan-Nya di hari akhir?
Ied, artinya kembali. Kembali menentun rajutan-rajutan hidup yang rancu, mengolah ulang ibadah ibadah yang ragu, melepas dosa dan khilaf masa lalu.
Pepatah arab berkata:
ليس العيد لمن لبس الجديد # ولكن العيد لمن طاعته تزيد
“Lebaran bukan untuk memakai baju baru, tapi bagi mereka yang ketaatannya ditambah dari yang dulu”
Singkatnya, pakaian yang seharusnya aku siapkan adalah ketaatan, bukan pakaian badan yang makin dipakai makin lusuh terlihat.
Semoga kita dimaafkan Allah, serta diterima amal amal seluruhnya.
Mohon maaf lahir dan bathin
(ihsan dan semua manusia)
Wallahu A’lam..
No comments:
Post a Comment