Oleh: Muhammad Ihsan
Adakah pernah terbesit di otak kita bahwa andaisaja tak ada yang bernama “benci” maka kehidupan akan tentram? Atau sejenak kita merasa ingin keluar dari zona dimana manusia saling menarik tali busur panahnya untuk membunuh yang ia sebut “musuh”?
Acapkali kita keliru dengan paradigma bahwa menghabisi orang yang dipandang salah akan menyelesaikan masalah. Logika berfikir yang unik, karena mungkin orang yang dieksekusi merasa dirinya lebih benar dari anda. Dan milik siapakah kebenaran itu sejatinya? Bagi orang yang beriman, tentu percaya bahwa firman Tuhan mutlak kebenarannya. Keyakinan ini tidak salah, namun Yang seringkali keliru adalah dimana tafsir satu kalangan dianggap mutlak kebenarannya dan berani menyalahkan bahkan menyebut sesat tafsir yang lain. Inilah mental mental dungu yang sering kami temukan dilapangan.
Perbedaan pendapat, pandangan, perspektif, paradigma, bahkan keyakinan tidak serta merta memberi lampu hijau untuk saling berperang, mencaci, atau memfitnah satu sama lain.
Bagi banyak orang, kasus tersebut mungkin menyulut amarah yang didorong ego dan ingin menang sendiri. Namun bagi sebagian lain, perbedaan merupakan bentuk rahmat dan pendidikan dari Tuhan untuk makhluknya. Ya, mengapa disebut rahmat dan pendidikan? Karena andaikata di bumi ini hanya hidup satu bangsa, satu pemahaman, satu makanan, satu agama, satu jenis, satu ras dan satu satu yang lainnya, tentu makhluk merasa jenuh, bosan, dan seteruanya. Mengapa demikian? Karena manusia diberi potensi akal untuk berfikir, atas keberanekaragaman ciptaan-Nya yang maha indah. Maka dikatakan perbedaan itu sebuah pelajaran dari Tuhan, yang tidak disampaikan secara talaqqi namun manusia dibekali akal untuk menemukan esensi dari setiap yang dia pandang, dia rasa, dia dengar dan dia cium.
Ilmu mencinta lahir ditengah masyarakat heterogen. Ilmu mencinta tumbuh subur dihati manusia manusia spesial yang memandang semua makhluk dengan cinta kasih dan kesabaran. Inilah esensi agama, agama yang hadir sebagai rahmatan lil alamin, menerangi setiap hati yang gelap, menyirami setiap jiwa yang tandus, meneduhkan ruh ruh yang panas kering. Seperti perbedaan suami dan istri yang atas dasar perbedaan itulah lahir sakinah mawaddah wa rahmah..
Wallahu A’lam..

No comments:
Post a Comment