Monday, January 27, 2020
SANTRI, KULTUR, DAN BERKAT
oleh: Santri Yasin dan Tahlil
.
Carut marut zaman akhir makin tak terkendali, di bumi yang memiliki luas kurang lebih 510 juta Km² dengan jumlah penduduk 7,7 milyar jiwa ini makin hari makin merebak isu-isu konflik, propaganda, konspirasi, marjinalisasi, delegitimasi, dan banyak hal lain.
Terjadinya perubahan iklim, merebaknya beraneka virus dan penyakit dan tentu maraknya opini-opini propaganda & isu ekstrimis dimuat, dibubuhi serta dimainkan secara molek oleh para elit demi keserakahan yang ujungnya tak lain hanya persoalan perut dan kantong.
.
Sangat absurd, jika dengan pertumbuhan penduduk bumi yang pesat ini, negara negara adidaya tak mempersiapkan keberlangsungan hidup warganya dalam dekade-dekade yang akan datang. Bayangkan saja, dalam 30 thn mendatang dunia diprediksi akan dihuni 10 milyar jiwa yang pasti akan saling berebut makan dan sumber daya alam.
.
Tapi tidak demikian dengan kaum sarungan. Di saat dunia di kuasai ajaran universal, sebut saja secret religion yaitu Kapitalisme, Santri masih konsisten sebagai pemegang Panji perdamaian dan leaders akhlak al-karimah.
Bagi santri, tidaklah hidup manusia ini sebagai perkara mencari makan saja, namun sebagai Khalifah, manusia mengemban tugas teramat berat dalam menyebar Rahmat dan kasih sayang Tuhan.
.
Dalam beberapa tahun belakangan, budaya nyantri semakin minim peminat. Dengan lahirnya teknologi, medsos, serta propaganda media, kaum sarungan diwacanakan sebagai kaum miskin, kolot, kuno, dsb. Sehingga kaum santri belakangan tak jarang menjadi kelompok minoritas dan terpinggirkan (marginalized).
.
Namun kemudian, peran serta santri di masyarakat sejatinya masih sangat dibutuhkan. Oleh karena masyarakat setiap hari berlomba mencari sesuap nasi untuk isi perutnya, mereka mulai sadar bahwa ruh dan hati pun perlu asupan gizi yang optimal. Sehingga di masyarakat perkotaan khususnya, peran santri semakin dicari karena dianggap mengerti perkara charging ruh dan hati.
.
Dalam pengaruh globalisasi dan modernisasi, masyarakat membuat hierarki sosial dengan menempatkan santri sebagai rakyat kalangan bawah. Maka tak jarang dikarenakan penampilan dan style santri yang terkesan kolot, rakyat memandang hal itu sebagai suatu 'kehinaan' kerena tidak sesuai trend kekinian.
Padahal bagi santri, bukanlah tak mampu untuk bergaya layaknya artis artis Korea, namun tatakrama dan citra penghargaan atas kultur budaya sebagai identitas diri adalah lebih penting dari sekedar mengikuti arus gaya hidup yang semakin gila.
.
Ada hal menarik dalam beberapa catatan santri. Sebagai pengemban amanah agama, tak jarang dalam perihal rezeki pun tak bergantung pada usaha (kasab) sehingga tidak bermental Kapitalistik. Karena santri percaya akan sebuah ayat populer “wa yarjuqhu min haitsu la_ yahtasib”. Bahwasanya Allah berkuasa untuk memberikan rezeki dari arah yang tiada terkira atau bahkan irasional. Salah satu buktinya adalah tak jarang undangan untuk mengisi doa, tahlil, makan bersama dan mendapat berkat.
Ini bukan transaksional atau logika kausalitas ,namun sekedar mengingatkan bahwa santri teramat yakin Allah lah yang memberikan rezeki, sehingga tak perlu rasanya merebut, merampas, mencuri harta milik orang lain.
“Mari mendidik diri berjati diri santri sejati, karena tolak ukur kemuliaan bukanlah perkara harta dan jabatan melainkan terpenuhinya kewajiban atas Tuhan dan berakhlakul Karimah”
.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Entri yang Diunggulkan
MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA
Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...
-
ثلاثى مجرّد TASHRIF Bab 1 Wazanna: فَعَلَ – يَفْعُلُ – فَعْلًا - فَهُوَ فَاعِلٌ - وَذَاكَ مَفْعُوْلٌ – أُفْعُلْ - لَاتُفْعِلْ – م...
-
Oleh: Muhammad Ihsan Agama sebagai sesuatu yang sakral acapkali sering diperdebatkan. Kaum satu dan lainnya saling melegitimasi kebe...
-
Oleh: Muhammad Ihsan Lalu lalang rindu lewat depan pintu Lirih menyeru bilik-bilik hati perindu Kini aku pergi Kau juga pergi Kita pu...
No comments:
Post a Comment