Saturday, July 22, 2017

LEMBAGA PENDIDIKAN SEMI PERUSAHAAN





Manusia adalah makhluk Tuhan yang dikarunia akal sebagai logistik berfikir, memahami kebaikan dan keburukan, hak dan bathil, baik dan buruk serta hal lainnya sebagai bekal kehidupannya di muka bumi juga sebagai sesuatu yang membedakannya dari makhluk Tuhan yang lain.
Akal akan mampu bekerja jika ia faham suatu hal, baik melalui pengalaman maupun pengajaran yang disampaikan guru-guru di sekolah ataupun para ustadz, pastur, dan para kaum pendidik lainnya. Tanpa pengalaman dan pengajaran akal takkan mampu menuntaskan tugasnya untuk menerima, memahami, dan menilai. Sehingga seiring berjalannya waktu manusia mengenal istilah pendidikan yang kemudian di legalitaskan atas nama sekolah, pesantren, yayasan dan sebagainya.
Jika hanya bercerita sampai titik ini, kita tidak menemukan problem untuk dikaji dan ditelaah yang kemudian diselesaikan dengan sebuah solusi sebagai jembatan untuk mencapai tujuan hidup berpendidikan dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan salah satu dari sekian banyak problematika dunia pendidikan khususnya di negara Indonesia yang mungkin masalah ini juga yang saat ini ditangisi oleh para pendidik terdahulu yang menyampaikan ilmu secara ikhlas dan cuma-cuma hanya karena ingin kita sebagai masa depan mereka bisa hidup lebih nyaman dan teratur dengan ditunjang ilmu pengetahuan yang mumpuni meninggalkan masa primitif beralih menuju modern.
Lantas apakah yang menjadi masalah besar dunia pendidikan kita saat ini?
Yaps, problem yang paling miris adalah persoalan Uang dan Ekonomi. Seolah berlaku peribahasa baru “Kaya pangkal Pintar”.
Mengapa demikian?
Mari kita buka mata lebar-lebar mengamati berapa banyak anak negeri yang tidak faham mana apa itu A, B, C, or D ?
Berapa banyak dari mereka yang menggelengkan kepala saat ditanya semisal apa kepanjangan DPR?
Bahkan tidak sedikit pula yang tidak tahu siapa pemimpin negaranya?
Ada apa ini? Apa yang terjadi di negeri ini?
Mengapa mereka yang mengenyam pendidikan hanyalah putra dari orang-orang ber-Duit?
Percayalah..!! masalah besar menimpa negeri ini…
Dapat kita lihat dari ujung timur hingga ujung barat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan telah dibuat ajang bisnis bagi mereka para penjahat negeri. Olehnya hak rakyat miskin untuk belajar di rampas, dan sungguh para actor inilah dalang keterbelakangan bangsa.
Mengapa? .. karena mereka yang menyebabkan anak negeri putus sekolah. Menjadi pemulung, pengamen, dan pedagang asongan akan lebih baik menurut rasio mereka para kaum lemah berpendidikan.
 Politik DUIT telah menjamur di penjuru negeri. Kedudukan uang seolah merampas kemuliaan Tuhan Sang maha Kuasa.
Sedikit ekstrim boleh dikata hampir musnah julukan “Guru Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.
Sungguh miris jika mencoba flashback menuju masa sebelum merdeka, dimana para guru dan pengajar agama berjuang mati-matian untuk mencetak generasi masa depan yang mulia.
Lalu apa yang ada sekarang?
Yang ada hanyalah Lembaga Pendidikan semi Perusahaan yang mencari keuntungan dan tak pernah ingin dirugikan.
Dari mulai lembaga kecil hingga yayasan yang telah makmur, perlu berjuta-juta uang untuk masuk lembaga ternama. Entahlah ..
Terlepas dari kata bisnis atau rakus, jujur saya sedih melihatnya.
Wallahu A’lam...
Bandung, 22 Juli 2017

No comments:

Post a Comment

Entri yang Diunggulkan

MEMBUKA MATA DI REPUBLIK MAYA

Globalisasi – Modernisasi berkembang pesat senada dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sebagai penduduk bumi menga...