Manusia adalah makhluk Tuhan yang
dikarunia akal sebagai logistik berfikir, memahami kebaikan dan keburukan, hak dan bathil, baik
dan buruk serta hal lainnya sebagai bekal kehidupannya di muka bumi juga
sebagai sesuatu yang membedakannya dari makhluk Tuhan yang lain.
Akal akan mampu bekerja jika ia faham suatu hal, baik melalui pengalaman
maupun pengajaran yang disampaikan guru-guru di sekolah ataupun para ustadz,
pastur, dan para kaum pendidik lainnya. Tanpa pengalaman dan pengajaran akal
takkan mampu menuntaskan tugasnya untuk menerima, memahami, dan menilai.
Sehingga seiring berjalannya waktu manusia mengenal istilah pendidikan yang
kemudian di legalitaskan atas nama sekolah, pesantren, yayasan dan sebagainya.
Jika hanya bercerita sampai titik ini, kita tidak menemukan problem untuk
dikaji dan ditelaah yang kemudian diselesaikan dengan sebuah solusi sebagai
jembatan untuk mencapai tujuan hidup berpendidikan dan berakhlakul karimah.
Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan salah satu dari sekian banyak
problematika dunia pendidikan khususnya di negara Indonesia yang mungkin
masalah ini juga yang saat ini ditangisi oleh para pendidik terdahulu yang
menyampaikan ilmu secara ikhlas dan cuma-cuma hanya karena ingin kita sebagai
masa depan mereka bisa hidup lebih nyaman dan teratur dengan ditunjang ilmu
pengetahuan yang mumpuni meninggalkan masa primitif beralih menuju modern.
Lantas apakah yang menjadi masalah besar dunia pendidikan kita saat ini?
Yaps, problem yang paling miris adalah persoalan Uang dan Ekonomi. Seolah
berlaku peribahasa baru “Kaya pangkal Pintar”.
Mengapa demikian?
Mari kita buka mata lebar-lebar mengamati berapa banyak anak negeri yang
tidak faham mana apa itu A, B, C, or D ?
Berapa banyak dari mereka yang menggelengkan kepala saat ditanya semisal
apa kepanjangan DPR?
Bahkan tidak sedikit pula yang tidak tahu siapa pemimpin negaranya?
Ada apa ini? Apa yang terjadi di negeri ini?
Mengapa mereka yang mengenyam pendidikan hanyalah putra dari orang-orang
ber-Duit?
Percayalah..!! masalah besar menimpa negeri ini…
Dapat kita lihat dari ujung timur
hingga ujung barat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan telah dibuat ajang
bisnis bagi mereka para penjahat negeri. Olehnya hak rakyat miskin untuk
belajar di rampas, dan sungguh para actor inilah dalang keterbelakangan bangsa.
Mengapa? .. karena mereka yang menyebabkan anak negeri putus sekolah. Menjadi pemulung,
pengamen, dan pedagang asongan akan lebih baik menurut rasio mereka para kaum
lemah berpendidikan.
Politik DUIT telah menjamur di
penjuru negeri. Kedudukan uang seolah merampas kemuliaan Tuhan Sang maha Kuasa.
Sedikit ekstrim boleh dikata hampir musnah julukan “Guru Sang Pahlawan
Tanpa Tanda Jasa”.
Sungguh miris jika mencoba flashback menuju masa sebelum merdeka,
dimana para guru dan pengajar agama berjuang mati-matian untuk mencetak
generasi masa depan yang mulia.
Lalu apa yang ada sekarang?
Yang ada hanyalah Lembaga Pendidikan semi Perusahaan yang mencari
keuntungan dan tak pernah ingin dirugikan.
Dari mulai lembaga kecil hingga yayasan yang telah makmur, perlu
berjuta-juta uang untuk masuk lembaga ternama. Entahlah ..
Terlepas dari kata bisnis atau rakus, jujur saya sedih melihatnya.
Wallahu A’lam...
Bandung, 22 Juli 2017

No comments:
Post a Comment